Headlines
Loading...
Refleksi Idul Fitri: Saatnya Umat Bersatu

Refleksi Idul Fitri: Saatnya Umat Bersatu

\

Oleh: Ustazah Ella
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Idulfitri setiap tahun dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Perayaan ini ditandai dengan gema takbir, tahmid, dan tasbih yang menggema, serta suasana kebersamaan dan saling memaafkan.

Namun, di balik euforia tersebut, realitas umat Islam menunjukkan kondisi yang jauh dari kemenangan kolektif. Fragmentasi tampak dalam berbagai aspek. Secara geopolitik, umat Islam yang berjumlah hampir dua miliar jiwa terpecah ke dalam lebih dari 50 negara-bangsa dengan kepentingan masing-masing. Akibatnya, loyalitas nasional kerap mengalahkan ukhuwah Islamiyah (Kompas.com, 11 April 2026).

Konflik antarnegara Muslim, ketergantungan pada kekuatan global, serta lemahnya posisi tawar di kancah internasional menjadi bukti nyata. Pada level sosial, umat juga terbelah oleh identitas sempit, seperti suku, golongan, organisasi, hingga preferensi politik dan tokoh agama. Bahkan, penetapan 1 Syawal kerap tidak seragam. Tahun ini, umat Islam merayakan Idulfitri pada hari yang berbeda (CNNIndonesia.com, 10 April 2026).

Fragmentasi ini berdampak pada hilangnya arah perjuangan umat. Akibatnya, meskipun jumlahnya besar, umat Islam sering kali tidak memiliki bobot dalam geopolitik dunia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemenangan yang dirayakan saat Idulfitri lebih bersifat individual, yakni keberhasilan menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan, bukan kemenangan kolektif sebagai umat. Realitas yang ada justru memperlihatkan bahwa umat Islam kehilangan arah, terjebak dalam sekat-sekat nasionalisme, serta mudah dipecah belah oleh kepentingan politik dan ekonomi global.

Predikat khairu ummah (umat terbaik) yang kerap diklaim sejatinya bukan label otomatis, melainkan konsekuensi dari pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar secara nyata. Ketika fungsi ini melemah, yang tersisa hanyalah klaim tanpa substansi.

Fragmentasi yang terjadi membuat umat Islam cenderung reaktif dan defensif, bukan proaktif dalam membangun peradaban. Akibatnya, umat Islam yang berjumlah besar hanya menjadi “buih di lautan”, yakni banyak secara kuantitas, tetapi tidak memiliki kekuatan strategis.

Islam menawarkan solusi dengan mengembalikan umat pada aturan Allah Swt. yang menekankan persatuan, keadilan, dan kepemimpinan. Allah Swt. berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Ayat ini menegaskan bahwa predikat umat terbaik hanya relevan ketika umat menjalankan fungsi amar ma’ruf nahi munkar secara kolektif. Rasulullah ï·º juga bersabda, “Sesungguhnya imam adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam menjaga persatuan umat.

Dalam sistem khilafah, umat Islam disatukan di bawah satu otoritas politik yang menaungi seluruh kaum Muslim. Dengan demikian, perbedaan dapat dikelola sebagai rahmat, bukan sumber konflik. Kepemimpinan yang berlandaskan syariat diyakini mampu mengeluarkan umat dari fragmentasi, mengembalikan predikat khairu ummah, serta menapaki jalan menuju peradaban yang gemilang. [My/EKD]

Baca juga:

0 Comments: