Headlines
Loading...
Pelajar Pengedar Sabu: Buah Sistem Gagal

Pelajar Pengedar Sabu: Buah Sistem Gagal

Oleh: Yunita
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.comKasus keterlibatan pelajar dalam peredaran narkoba kembali terjadi di Indonesia. Dua peristiwa terbaru menunjukkan bagaimana generasi muda semakin mudah terseret dalam kejahatan narkotika.

Kasus pertama terjadi di Desa Kangga. Aparat kepolisian menangkap dua pelaku berinisial SH (26) dan KF. Mereka kedapatan hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. SH diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap, sementara KF masih tercatat sebagai pelajar. Kasus ini diungkap oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Bima. Bandar berinisial MH, yang diduga sebagai pemasok barang haram tersebut, masih dalam pengejaran aparat (detikbali, 2/4/2026).

Kasus kedua terjadi di Kendari. Tim Opsnal Satresnarkoba Polresta Kendari menangkap seorang pelajar berinisial HS (19). Dari tangan pelaku ditemukan puluhan paket sabu yang disimpan di berbagai lokasi. Dari seluruh rangkaian pengungkapan tersebut, polisi mengamankan total 31 paket sabu dengan berat bruto 6,92 gram, beserta sejumlah barang bukti lainnya. HS diketahui berperan sebagai penyimpan sekaligus pengedar (suarasultra.com, 31/3/2026).

Fakta ini menunjukkan bahwa pelajar tidak hanya menjadi korban penyalahgunaan narkoba, tetapi juga telah masuk dalam jaringan distribusi. Dua kasus ini hanyalah sebagian kecil dari fenomena yang lebih luas: semakin banyak generasi muda yang terjerat dalam lingkaran narkotika.


Kegagalan Sistem Sekuler Menjaga Generasi

Fenomena pelajar yang terlibat dalam peredaran narkoba bukan sekadar masalah individu atau kenakalan remaja semata. Hal ini merupakan indikator kegagalan sistem yang lebih besar dalam menjaga generasi. Berikut beberapa penyebabnya:

Pertama, sistem sekuler menjauhkan generasi dari agama.
Sistem kehidupan sekuler telah memisahkan agama dari kehidupan publik. Dalam sistem ini, agama hanya diposisikan sebagai urusan pribadi, bukan sebagai dasar pembentukan kepribadian dan pengaturan masyarakat.

Akibatnya, pendidikan tidak lagi berorientasi pada pembentukan manusia yang bertakwa, melainkan sekadar menghasilkan individu yang siap bersaing secara ekonomi. Nilai moral dan spiritual menjadi lemah, sehingga generasi muda mudah tergoda oleh keuntungan materi yang instan, termasuk melalui jalur kriminal seperti peredaran narkoba.

Ketika akidah tidak menjadi fondasi berpikir dan bertindak, pengendalian diri menjadi rapuh. Hal ini membuka pintu bagi berbagai penyimpangan perilaku.

Kedua, lemahnya sistem pendidikan.
Sistem pendidikan saat ini lebih menekankan aspek akademik dan keterampilan kerja, sementara pembentukan karakter dan integritas sering kali hanya menjadi pelengkap. Pelajar dapat memiliki pengetahuan luas, tetapi tidak memiliki landasan moral yang kuat. Tanpa pembinaan akhlak yang mendalam, generasi muda mudah terpengaruh lingkungan buruk, tekanan ekonomi, maupun godaan gaya hidup instan.

Ketiga, lemahnya penegakan hukum.
Peredaran narkoba yang terus berulang menunjukkan lemahnya sistem penegakan hukum. Jaringan narkotika tetap tumbuh karena hukuman sering kali tidak memberikan efek jera. Para bandar besar sulit disentuh, sementara pelaku di lapangan hanya menjadi bagian kecil dari jaringan yang lebih besar. Situasi ini membuat peredaran narkoba terus menemukan celah untuk berkembang.


Konstruksi Solusi dalam Perspektif Islam

Islam memandang penjagaan generasi sebagai tanggung jawab bersama antara individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Oleh karena itu, solusi Islam bersifat menyeluruh, bukan parsial.

a. Sistem pendidikan Islam
Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia sebagai hamba Allah Swt. Kurikulum tidak hanya menanamkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kepribadian Islam yang kuat.

Generasi dididik agar memiliki akidah yang kokoh, akhlak yang mulia, kesadaran akan halal dan haram, serta tanggung jawab terhadap masyarakat. Dengan fondasi ini, pelajar tidak mudah tergoda oleh aktivitas yang merusak diri dan lingkungan.

b. Peran keluarga
Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, seperti menanamkan akidah, memberikan teladan akhlak, mengawasi pergaulan, serta mendampingi perkembangan emosional dan spiritual anak.

c. Peran masyarakat
Masyarakat memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang sehat bagi generasi. Prinsip amar makruf nahi mungkar menjadi mekanisme sosial untuk menjaga moralitas publik. Lingkungan yang peduli akan mencegah penyimpangan dan membina generasi agar tetap berada di jalan yang benar.

d. Peran negara dan sanksi hukum
Negara memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi masyarakat dari kerusakan, termasuk narkotika. Islam menetapkan hukum yang tegas terhadap peredaran zat yang merusak akal. Penegakan hukum yang adil dan konsisten akan memberikan efek jera serta menutup celah berkembangnya jaringan narkoba.

Selain itu, negara wajib memberantas jaringan hingga ke akar, menutup akses distribusi, serta menjaga stabilitas ekonomi agar masyarakat tidak terdorong melakukan kejahatan.


Kesimpulan

Kasus pelajar yang terlibat dalam peredaran sabu menunjukkan bahwa kerusakan generasi bukan sekadar persoalan individu, melainkan buah dari sistem kehidupan yang gagal menjaga manusia. Sistem sekuler kapitalis telah memisahkan agama dari kehidupan, sehingga pendidikan kehilangan ruh pembinaan iman, keluarga kehilangan arah, masyarakat cenderung abai, dan negara belum mampu menutup rapat pintu kerusakan.

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh. Ketika Islam diterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan—mulai dari pendidikan, sistem sosial, hingga penegakan hukum— penjagaan terhadap akal, moral, dan masa depan generasi dapat diwujudkan secara nyata.

Dalam sejarah peradaban Islam, penerapan syariat secara menyeluruh melalui institusi Khilafah mampu menjaga masyarakat dari berbagai bentuk kerusakan, termasuk kejahatan yang merusak akal seperti narkotika. Negara berfungsi sebagai penjaga agama dan pelindung rakyat, memastikan pendidikan berbasis akidah, lingkungan sosial yang sehat, serta penerapan hukum yang tegas dan adil.

Oleh karena itu, penerapan Islam secara menyeluruh menjadi kebutuhan umat untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai krisis, termasuk rusaknya generasi muda. Dengan penerapan tersebut, diharapkan lahir generasi yang bertakwa, berilmu, dan mampu berkontribusi bagi kemaslahatan dunia dan akhirat.

Wallahualam bissawab.
[Ni/UF]

Baca juga:

0 Comments: