Headlines
Loading...
Kehancuran Generasi Islam di Depan Mata

Kehancuran Generasi Islam di Depan Mata

Oleh: Ika Bisanti Lathifah
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Jika kita mau jujur, generasi Islam hari ini sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena kurang pintar atau minim fasilitas. Justru mereka hidup di era teknologi canggih, dengan akses informasi luas dan kuota internet melimpah. Namun ironisnya, semakin banyak remaja yang kehilangan arah.

Coba kita lihat fakta di lapangan. Hasil survei BKKBN tahun 2025 menyebutkan bahwa 75% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Sementara itu, data BNN menunjukkan jumlah pengguna narkoba usia 15–24 tahun mencapai 1,8 juta orang. Kementerian Komunikasi dan Informatika juga memaparkan bahwa Indonesia darurat judi online, dengan mayoritas pelaku berasal dari usia produktif. Pinjaman online ilegal pun merajalela, bahkan kasus bunuh diri akibat jeratan utang semakin sering terdengar.

Ini bukan sekadar “kenakalan remaja”, melainkan tanda rapuhnya benteng generasi. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?

Pertama, agama dipisahkan dari kehidupan.
Di sekolah, ilmu sains diajarkan secara mendalam. Namun, ketika remaja ditanya tentang tujuan hidup, banyak yang masih kebingungan. Ibadah tetap dijalankan, tetapi perilaku tidak mencerminkan nilai yang sama. Pacaran tetap dianggap wajar. Hal ini lahir dari pemahaman bahwa agama adalah urusan pribadi yang tidak boleh dibawa ke ranah publik. Akibatnya, terbentuk pribadi Muslim yang menjalankan ritual, tetapi minim penghayatan nilai.

Kedua, serbuan budaya liberal melalui genggaman.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram, ditambah tontonan seperti drama Korea dan lagu-lagu populer, kerap mempromosikan gaya hidup bebas. Pacaran dianggap sebagai bentuk cinta, zina dinormalisasi dengan dalih suka sama suka, aurat dijadikan konten, dan gaya hidup pamer dianggap prestasi. Sebaliknya, mereka yang menjaga nilai agama justru sering dicap ketinggalan zaman. Perlahan, rasa malu memudar dan kesadaran akan dosa semakin terkikis.

Ketiga, keluarga kehilangan peran.
Ayah sibuk bekerja, ibu disibukkan berbagai aktivitas, sementara anak lebih banyak diasuh oleh gawai dan media digital. Rumah tidak lagi menjadi madrasah pertama bagi anak. Ketika mereka memiliki pertanyaan tentang agama, tidak ada tempat yang tepat untuk bertanya. Akhirnya, mereka belajar dari sumber yang tidak utuh, seperti influencer dengan pemahaman yang terbatas.

Jika kondisi ini dibiarkan, dua puluh tahun ke depan kita berpotensi menghadapi generasi yang menjadikan Islam sebatas identitas administratif. Nama boleh Muhammad atau Fatimah, tetapi pola pikir dan gaya hidupnya justru meniru budaya Barat.

Solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya dengan memperbanyak ceramah. Ada tiga hal mendasar yang perlu dilakukan. Pertama, mengembalikan Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh, bukan sekadar ibadah ritual. Kedua, menghadirkan konten dakwah yang menarik, relevan, dan mampu menyaingi arus konten negatif. Ketiga, menghidupkan kembali peran keluarga sebagai pusat pendidikan utama, dengan ayah sebagai pemimpin dan ibu sebagai pendidik, serta rumah sebagai benteng nilai.

Sebab generasi adalah investasi akhirat. Apa yang ditanam hari ini, itulah yang akan dipanen di masa depan. [Rn/HM]


Baca juga:

0 Comments: