Headlines
Loading...
Buah Sistem Rusak: Cinta Ditolak, Sajam Bertindak

Buah Sistem Rusak: Cinta Ditolak, Sajam Bertindak

Oleh: Ummu Rofi’
(Aktivis Muslimah)

SSCQMedia.com — Pergaulan saat ini semakin rusak karena tidak diatur dengan pengaturan yang benar. Dalam kehidupan yang menjadikan kebebasan sebagai asas perilaku, banyak tindakan yang keluar dari batas kewajaran. Padahal, Islam telah mengatur kehidupan pria dan wanita secara terpisah melalui hukum syariat.

Fakta yang terjadi di Riau menunjukkan kondisi tersebut. Seorang mahasiswi di kampus UIN Suska, yang sedang menjalani seminar proposal, dibacok oleh seorang mahasiswa dari kampus yang sama. Pelaku melakukan aksi tersebut menggunakan senjata tajam karena sakit hati setelah perasaannya ditolak. Saat ini, pelaku telah ditahan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. Tindakan tersebut bahkan telah direncanakan sebelumnya (Kompas.com, 1 Maret 2026).

Peristiwa ini menggambarkan betapa murahnya nyawa manusia ketika emosi tidak terkendali. Apakah rasa kemanusiaan sebagian masyarakat saat ini telah hilang? Nyawa seolah tidak lagi bernilai. Ini merupakan problem serius yang harus segera diselesaikan hingga ke akar.

Jika tidak segera ditangani, tindak kejahatan akan semakin masif di tengah masyarakat. Mengapa kejahatan seakan dibiarkan, dan sanksi yang diberikan tidak menimbulkan efek jera?

Kehidupan individu, masyarakat, dan negara saat ini diatur oleh sistem yang rusak, yakni kapitalisme-sekularisme. Sistem ini menjadikan materi sebagai tujuan utama serta memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, standar perbuatan tidak lagi berdasarkan perintah Allah Swt.

Penerapan sistem tersebut berdampak pada meningkatnya kejahatan, termasuk pembunuhan. Ia melahirkan individu yang acuh, masyarakat yang apatis, serta negara yang tidak amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Padahal, pemimpin seharusnya mengurusi urusan umat secara menyeluruh.

Namun, sistem ini justru mendorong penguasa untuk mengejar kepentingan materi dan mengabaikan kesejahteraan rakyat. Berbagai aturan yang lahir darinya turut merusak pergaulan generasi dan mengikis jati diri Muslim. Pacaran dinormalisasi, pergaulan bebas dengan non-mahram dianggap wajar, dan berbagai aktivitas menyimpang lainnya semakin marak.

Dari aspek pendidikan, orientasi yang dibangun pun lebih kepada prestise, bukan ketakwaan kepada Allah Swt. Akibatnya, lahirlah generasi yang temperamental, egois, rentan mengalami gangguan mental, dan mudah depresi. Semua ini merupakan buah dari sistem kapitalisme-sekularisme.

Sebaliknya, Islam hadir sebagai sistem yang memberikan solusi menyeluruh atas problematika kehidupan, khususnya bagi generasi. Aturan dalam Islam bersumber dari Allah Swt., Sang Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Karena Allah yang menciptakan, maka Dia pula yang paling mengetahui aturan terbaik bagi manusia.

Islam mengatur pergaulan antara pria dan wanita secara jelas. Perempuan dalam Islam dijaga dan dimuliakan, di antaranya melalui kewajiban menutup aurat secara sempurna serta adanya pengaturan kehidupan khusus dan umum.

Dalam perjalanan jauh, Islam juga memberikan aturan. Interaksi dengan non-mahram dibatasi, dan campur baur tanpa aturan dilarang. Semua ini memerlukan peran pemimpin sebagai pengatur. Dalam Islam, pemimpin disebut khalifah, yang bertanggung jawab mengurus urusan umat berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan semata-mata akal manusia yang terbatas.

Allah Swt. sebagai Pencipta mengetahui hakikat manusia. Ketika manusia menolak aturan-Nya, maka kerusakan akan terjadi. Sebaliknya, jika menaati perintah-Nya, akan datang keberkahan dan kesejahteraan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 96:
Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Dengan diterapkannya sistem Islam, khalifah akan mengelola urusan rakyat secara amanah dan bertanggung jawab sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dampaknya, individu dan masyarakat akan terlindungi serta terdorong menjadi pribadi yang bertakwa.

Dari aspek pendidikan, Islam berorientasi pada pembentukan ketakwaan dan kepribadian Islam secara menyeluruh. Sistem yang benar akan melahirkan generasi yang saleh dan bertakwa, dengan keimanan sebagai benteng dalam berperilaku.

Islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku kejahatan. Dalam kasus pembunuhan, terdapat hukum qisas; untuk zina, terdapat hukuman rajam bagi yang telah menikah; serta sanksi ta’zir untuk pelanggaran lainnya yang ditetapkan oleh khalifah. Sanksi ini berfungsi sebagai pencegah sekaligus penebus atas kejahatan yang dilakukan.

Sebaliknya, dalam sistem kapitalisme, sanksi yang diberikan sering kali tidak menimbulkan efek jera, bahkan cenderung menyuburkan kejahatan.

Oleh karena itu, solusi atas rapuhnya ketakwaan masyarakat saat ini adalah dengan kembali kepada sistem yang sahih, yaitu sistem Islam.

Wallahu a‘lam bi ash-shawab. [My/AA]

Baca juga:

0 Comments: