Headlines
Loading...
Menapaki Jalan Nabi, Meraih Kebahagiaan Hakiki

Menapaki Jalan Nabi, Meraih Kebahagiaan Hakiki

Oleh: Ummu Irul
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com — Dalam menapaki hidup di dunia ini, kita tak pernah lepas dari ujian dan cobaan. Allah Swt. telah menyatakan:

“Yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (TQS Al-Mulk: 2)

Artinya, selama kita masih hidup, pasti akan ada ujian, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan menurut pandangan manusia. Namun, sejatinya semua itu adalah yang terbaik di sisi Allah, karena Dia Maha Mengetahui, sedangkan kita adalah makhluk yang sangat lemah dan terbatas pengetahuannya.

Sebagai seorang muslim, kita juga menyadari bahwa dunia ini hanyalah tempat bercocok tanam, berinvestasi, dan menabung amal. Dunia adalah tempat bersusah payah agar kehidupan akhirat yang bersifat abadi dan tidak berujung kerugian.

Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika menghadapi ujian yang datang silih berganti? Siapa yang dapat kita jadikan teladan dalam menjalani ujian hidup ini agar menjadi orang yang beruntung di kehidupan abadi kelak?

Sebagai umat akhir zaman, panutan utama kita tentu adalah Nabi Muhammad saw. Beliau adalah nabi penutup yang risalahnya telah disempurnakan oleh Allah. Sosok mulia ini memiliki mukjizat luar biasa, akhlak yang tiada tandingan, tutur kata yang lembut dan berwibawa, serta kasih sayang yang mendalam. Segala tindakan dan perkataan beliau menjadi rujukan umat, bahkan diamnya pun merupakan petunjuk. Masyaallah.

Oleh karena itu, Allah telah menetapkan beliau sebagai teladan terbaik bagi manusia, khususnya kaum muslim. Sebagaimana firman-Nya:

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa kita harus meneladani Rasulullah saw. dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup—bukan hanya dalam hal akhlak dan ibadah mahdhah, tetapi juga dalam urusan lain seperti politik, pendidikan, ekonomi, kesehatan, pertahanan, dan pemerintahan. Semua harus berlandaskan teladan beliau dan tidak boleh menyelisihinya.

Sebab, siapa yang menyelisihi jalan Rasulullah saw. tidak akan berada di barisan beliau kelak di akhirat. Karena itu, dalam berdakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar, seorang muslim wajib mengikuti metode beliau, bukan dengan jalan buatan manusia yang lemah dan terbatas.

Sebagai contoh dalam bidang pemerintahan, Rasulullah saw. ketika bernegara di Madinah tidak pernah menerapkan sistem selain Islam. Beliau mengatur rakyat dengan syariat, bukan dengan hukum buatan manusia. Maka, tidak ada alasan bagi umat Islam hari ini untuk berpaling dari sistem Islam dalam bernegara dan menggantinya dengan sistem manusia, seperti demokrasi.

Sistem demokrasi menjunjung tinggi kebebasan dalam segala hal—berperilaku, beragama, berpendapat, dan memiliki harta. Akibatnya, kerusakan moral dan sosial menjadi tak terelakkan.

Karena kebebasan berperilaku, budaya pacaran merebak di mana-mana, bahkan hingga terjadi kohabitasi (kumpul kebo tanpa nikah) yang kerap berujung pada tragedi memilukan.
Karena kebebasan kepemilikan, kesenjangan sosial makin lebar. Si kaya makin kaya, si miskin makin miskin. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik bersama kini dikuasai segelintir pemodal, baik dari dalam maupun luar negeri. Karena kebebasan beragama, muncul fenomena murtad, bahkan ateisme dianggap hal yang lumrah.

Itulah sebagian kecil dari kerusakan akibat tidak menjadikan Rasulullah saw. sebagai panutan dalam seluruh aspek kehidupan. Padahal Allah Swt. telah berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Dengan ayat ini, semakin kuat keyakinan kita bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan menapaki jalan Rasulullah saw., jalan yang penuh cahaya, menuju kebahagiaan fiddunya wal akhirah.

Wallahualam bissawab. 

Magetan, 13 Oktober 2025

[Ni]

Baca juga:

0 Comments: