Headlines
Loading...
Akankah Genosida Palestina Berakhir?

Akankah Genosida Palestina Berakhir?

Oleh: Eka Suryati
(Kontributor SSCQMedia.Com)


SSCQMedia.Com — Ada darah di pasir, ada air mata di angin, ada doa di antara puing-puing masjid. Palestina tak pernah diam, tetapi dunia seolah tuli. Maka pertanyaan itu kembali bergema di dada setiap hati yang masih hidup: akankah genosida Palestina benar-benar berakhir?

Sejarah mencatat, sudah lebih dari tujuh dekade tanah Palestina dirampas. Dua tahun terakhir menjadi catatan paling kelam dalam sejarahnya. Mengapa demikian? Karena genosida terus berlangsung; serangan demi serangan bom dan peluru menghujani hari-hari di Palestina. Rumah-rumah runtuh, sekolah hancur, rumah sakit lumpuh, dan ribuan anak kehilangan orang tuanya dalam sekejap. Dunia yang katanya beradab mendadak kehilangan nurani. Kata kemanusiaan seolah hanya menjadi jargon, bukan tindakan nyata.

Sejak Oktober 2023 hingga Oktober 2025, Palestina seakan tak pernah berhenti diserang oleh Israel. Laporan dari berbagai media internasional menyebutkan bahwa warga Palestina yang gugur telah mencapai lebih dari 40.000 jiwa — angka yang sangat besar untuk sebuah tragedi kemanusiaan. Sekitar 20.000 di antaranya adalah anak-anak. Betapa biadab tindakan pihak Zionis Israel; anak-anak tak berdosa pun tidak membuat mereka menghentikan pembantaian. Mereka tetap membunuh dengan keji. Belum lagi mereka yang terluka atau cacat permanen.

Data dan fakta ini seharusnya mengetuk rasa kemanusiaan semua pihak untuk segera menghentikannya. Namun, apa daya, semua tetap berlangsung di depan mata dunia yang menatap tanpa iba.

Palestina—terutama Gaza—kini nyaris tak lagi layak huni. Kehancuran parah ditambah sulitnya air bersih serta listrik yang padam hampir setiap hari membuat hidup di sana semakin berat. Yang lebih menyedihkan, kelaparan melanda penduduknya. Anak-anak Gaza tampak kurus, bahkan tubuh mereka tinggal kulit membalut tulang—pemandangan yang kita saksikan setiap hari. Tak terhitung mereka yang meninggal akibat kelaparan yang sengaja diciptakan oleh penjajah. Sungguh kenyataan yang memilukan: rakyat Palestina menuju kematian secara perlahan, namun begitu menyakitkan.

Kematian perlahan itu terus terjadi karena Zionis Israel masih memberlakukan blokade. Mereka menutup akses bantuan kemanusiaan dari berbagai penjuru dunia. Blokade dari darat, laut, dan udara membuat makanan, pakaian, serta obat-obatan tak dapat masuk untuk sekadar meringankan derita penduduk Palestina.

Dunia yang Bungkam

Di balik semua itu, ada ironi yang menyayat hati. Penduduk dunia, termasuk umat Islam, banyak yang hanya bisa terdiam. Mereka menonton tragedi itu dari layar ponsel, lalu melanjutkan hidup seperti biasa—seolah derita Palestina hanyalah berita harian yang akan dilupakan esok pagi.

Resolusi demi resolusi yang dikeluarkan PBB seolah hanya sandiwara. Tidak ada tindakan nyata untuk menghentikan penjajahan dan pembantaian ini. Semua terhenti di atas meja perundingan, dibungkam oleh veto negara-negara besar yang mempermainkan keadilan demi kepentingan politik mereka.

Cahaya Harapan di Tengah Kegelapan

Namun, di tengah kelamnya dunia, rakyat Palestina tetap menyalakan cahaya kecil harapan. Mereka tahu, kemenangan sejati tidak bergantung pada jumlah senjata, melainkan pada kekuatan iman. Anak-anak Gaza masih menghafal Al-Qur’an di bawah dentuman bom. Mereka masih tersenyum saat mengangkat tangan kecilnya berdoa. Mereka kehilangan segalanya, kecuali keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka.

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
(QS. Ali Imran: 169)

Ayat ini mereka yakini sepenuh hati: setiap tetes darah yang tumpah tidak sia-sia. Setiap nyawa yang terenggut akan menjadi saksi di hadapan Allah. Setiap penderitaan akan berbuah kemenangan pada waktu yang telah Dia tetapkan.

Ujian bagi Umat Islam

Namun bagi dunia Islam, pertanyaan besar terus menggantung: sampai kapan kita hanya diam?

Umat Islam hari ini berjumlah hampir dua miliar, tetapi terpecah dalam sekat-sekat nasionalisme yang sempit. Tidak ada satu kepemimpinan yang menyatukan, tidak ada satu komando yang menggerakkan. Padahal, di masa kejayaan Islam, ketika satu wilayah diserang, wilayah lain bangkit membela tanpa menunggu perintah lembaga dunia. Ketika tangisan terdengar di satu negeri, pasukan dikirim dari negeri lain untuk melindungi kehormatan dan darah kaum muslimin.

Kini, kita hanya bisa mengirim bantuan kemanusiaan, doa, dan melakukan boikot terhadap produk penjajah—semuanya baik, tetapi belum cukup. Palestina butuh lebih dari sekadar empati. Mereka butuh kesatuan umat, butuh pemimpin yang berani menegakkan keadilan, butuh sistem yang melindungi kehormatan Islam sebagaimana dilakukan para khalifah dahulu.

Janji Kemenangan

Palestina bukan sekadar wilayah konflik. Ia adalah ujian bagi nurani dunia dan keimanan umat Islam. Apakah kita benar-benar peduli, atau sekadar merasa iba tanpa aksi nyata? Apakah kita siap memperjuangkan kebenaran, atau lebih memilih nyaman di zona aman sementara saudara kita terus dibantai?

Satu hal yang pasti: genosida ini tidak akan berlangsung selamanya. Setiap kezaliman punya akhir, setiap penindasan punya batas. Sejarah membuktikan, Allah selalu menolong hamba-Nya yang sabar dan beriman. Kemenangan mungkin belum datang hari ini, tetapi janji Allah tidak pernah ingkar.

“Dan Kami pasti akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).”
(QS. Ghafir: 51)

Maka, yakinlah—meski dunia membisu, Allah tidak pernah tidur. Setiap air mata, setiap jeritan, dan setiap doa yang keluar dari hati yang hancur akan naik ke langit dan mengetuk pintu keadilan-Nya. Pada saat yang Allah kehendaki, bumi Palestina akan tersenyum kembali.

Kotabumi, 15 Oktober 2025

Baca juga:

0 Comments: