Headlines
Loading...

Oleh. Lifa Witd
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Konon ada sebuah negeri bernama Konoha. Nama itu memang mirip dengan desa dalam sebuah manga terkenal dari negeri Matahari Terbit. Tapi jangan salah, Konoha ini berbeda sama sekali, baik tempat maupun penghuninya. Justru yang terjadi di negeri ini lebih unik dan patut diceritakan.

Di Konoha, tikus-tikus bisa menjadi pejabat publik dan wakil rakyat. Mereka disebut “tikus berdasi”. Uniknya, para tikus ini dipilih langsung oleh warga setiap lima tahun sekali. Jadi, bukan hanya pandai menggerogoti lumbung padi, tikus-tikus berdasi ini juga bisa duduk di kursi kekuasaan.

Namun, rakus mereka tiada tanding. Bayangkan, dalam sebulan mereka bisa meminta jatah makan satu ton beras. Entah beras macam apa yang mereka kunyah, hingga warga Konoha sendiri kelaparan. Berbanding terbalik: tikus berdasi hidup sejahtera, sementara rakyat menderita karena upeti yang dipungut semakin besar. Apakah kondisi ini serupa dengan apa yang terjadi di negeri kalian? Semoga saja tidak, Kawan.

Kesabaran warga pun habis. Media sosial penuh dengan seruan: “Bubarkan Dewan Tikus Berdasi!”. Salah satu tikus bahkan menanggapi dengan pongah, “Tolol, siapa pun yang ingin dewan dibubarkan!” Sepertinya dia mulai ketar-ketir jika sampai kehilangan kursi empuknya. 

Tikus berdasi semakin meresahkan. Mereka membuat aturan yang hanya menguntungkan segelintir kroni, padahal gaji mereka berasal dari upeti rakyat. Warga semakin muak, apalagi ketika muncul pejabat bergelar Ibu Gagak Hitam. Dalam pidatonya ia berkata lantang, “Upeti sama dengan zakat, maka setiap warga Konoha wajib menyetorkannya.”

Rusa-rusa yang mendengar hanya bisa mencibir, “Kenapa tidak sekalian saja syariat Sang Maha Tinggi diterapkan, biar tuntas?” Si Kucing menimpali, “Iya, kenapa setengah hati begitu?”

Namun, Gagak Hitam tetap keras kepala. Di kesempatan lain ia menyindir, “Siapa yang menolak upeti, berarti tidak ingin Konoha maju.” Ironisnya, justru para pejabat itulah yang tidak pernah menyetor, sebab upeti mereka dibayar dari kas negara. Rakyat hanya dapat derita, bukan sejahtera.

Sementara itu, pemimpin Konoha, seekor Gajah yang dulu dielu-elukan, tak kunjung menepati janji. Ia lebih suka bergoyang dombret daripada bekerja. Para menterinya pun gemar melontarkan ocehan kosong, membuat rakyat semakin muak.

Yang lebih aneh, warga Konoha kerap menolak solusi sejati. Mereka menyebutnya “radikal” dan tak sesuai undang-undang perhewanan. Padahal solusi itu berasal dari Sang Maha Tinggi, pencipta seluruh semesta. Mereka lebih memilih aturan buatan tikus berdasi ketimbang petunjuk dari langit.

Tak heran negeri makin carut-marut. Singa dan Harimau yang dulu gagah, kini tak lagi ditakuti loreng dan aumannya. Anak-anak musang bertanya polos kepada ibunya, “Bu, kenapa Konoha dipimpin Gajah dan tikus berdasi? Apakah Singa dan Harimau sudah punah?” Sang ibu hanya tersenyum getir sambil menatap gawai, membaca keluhan warga di media sosial.

Hari demi hari, cuitan protes semakin ramai. Ada yang menulis sinis: “Masuk surga lewat jalur jadi warga Konoha.” Sebuah ungkapan putus asa dari rakyat yang lelah menghadapi ketidakadilan.

Namun sayang, warga belum benar-benar sadar. Mereka lupa bahwa kehancuran Konoha adalah akibat perbuatan mereka sendiri—menolak aturan Sang Maha Tinggi, lalu tunduk pada aturan buatan makhluk lemah.

Entah sampai kapan Konoha terus menjadi negeri ilusi. Surga yang mereka impikan, barangkali hanya akan tinggal dalam cerita. []

Baca juga:

0 Comments: