Headlines
Loading...
Anak Bangsa Cacingan, Tanggung Jawab Siapa?

Anak Bangsa Cacingan, Tanggung Jawab Siapa?

Oleh. Ani Ummu Zaza
(Praktisi Homeschooling)

SSCQMedia.Com — Sedih rasanya mendengar kasus Raya, balita asal Sukabumi yang meregang nyawa pada 22 Juli 2025 dengan tubuh dipenuhi cacing. Akhir-akhir ini, muncul pula kasus infeksi cacingan parah di Provinsi Bengkulu yang dialami kakak beradik Aprilia (4 tahun) dan Khaira (1 tahun 8 bulan). Saat ini, keduanya masih menjalani perawatan intensif di RSUD setempat.

Infeksi cacing gelang tidak bisa dianggap sepele. Berawal dari kurangnya kesadaran menjaga kebersihan dan pola hidup sehat, penyakit ini dapat merenggut nyawa seperti yang dialami Raya. Jika menelisik lebih jauh, sejak bayi Raya sering bermain di bawah rumah panggungnya yang kotor. Hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan sanitasi buruk, Raya pun tidak mendapatkan pengasuhan optimal. Ibunya mengalami gangguan jiwa, sementara ayahnya sakit-sakitan.

Hak Anak atas Pengasuhan yang Baik

Sejak lahir hingga masa mumayyiz sekitar usia tujuh tahun, anak membutuhkan pengasuhan dari keluarga terdekat seperti ibu, nenek, atau ayah. Islam mewajibkan pengasuh anak adalah orang berakal, penyayang, telaten, serta memiliki kapasitas ilmu. Orang yang berkarakter keras atau suka melukai anak tidak boleh mengasuh, karena membahayakan jiwa anak. Pengasuh juga dituntut memiliki kecakapan, mulai dari menjaga kebersihan tubuh anak hingga pemahaman tentang gizi agar asupan nutrisi tercukupi. Sejak kecil pula, anak perlu diajarkan karakter, seperti adab makan, adab tidur, adab masuk kamar mandi, dan dasar-dasar keimanan.

Inilah jaminan Islam terhadap hak anak. Sejak lahir, ia berhak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan terbaik dari keluarganya. Pada dasarnya, anak adalah tanggung jawab kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang laki-laki adalah pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawabnya.” (HR. al-Bukhari).

Ganjaran bagi orang tua yang menjaga jiwa anak adalah surga. Inilah motivasi sejati yang seharusnya menggerakkan keluarga, bukan sekadar investasi dunia agar kelak di hari tua mereka dirawat anak-anaknya.

Peran Masyarakat dalam Menjaga Anak

Namun, menjaga anak bukan hanya tanggung jawab orang tua. Islam juga mewajibkan masyarakat ikut peduli. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin, yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya.” (HR. al-Bukhari).

Hadis ini sangat jelas. Seorang muslim wajib memperhatikan keadaan muslim lainnya. Apakah mereka hidup aman, kenyang, dan tercukupi kebutuhannya. Rasulullah memotivasi umat untuk saling membantu dalam kebaikan, termasuk membersihkan lingkungan agar tetap sehat dan membantu keluarga miskin agar hidup layak.

Negara sebagai Penanggung Jawab Utama

Tidak kalah penting, negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawabnya.” (HR. al-Bukhari).

Khalifah Umar bin Khattab sangat memahami hadis ini. Beliau memberikan santunan kepada setiap keluarga yang melahirkan anak. Setiap anak mendapatkan hak dari Baitul Mal, baik sebelum disapih maupun setelah disapih. Keluarga miskin pun dipenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Bahkan, Umar sendiri pernah memanggul gandum untuk warganya. Ini bukti bahwa Islam menjaga jiwa dan kesehatan, tidak hanya anak-anak, tetapi seluruh masyarakat.

Pada masa pemerintahan Islam, rumah sakit tersebar luas dengan layanan terbaik dan gratis. Semua warga, kaya atau miskin, muslim maupun nonmuslim, berhak mendapat pelayanan kesehatan. Negara juga menghadirkan edukasi, baik langsung maupun melalui sistem pendidikan Islam, yang menekankan pembentukan kepribadian Islami dan penguasaan ilmu bermanfaat. Sejak dini, anak dibiasakan hidup bersih, menjaga diri, memakan makanan halal dan thayyib, serta menjaga lingkungan.

Selain itu, negara menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin setiap kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan pokok. Negara membuka lapangan kerja, menyediakan bantuan modal tanpa riba, bahkan bisa memberikan secara cuma-cuma. Dana ini bersumber dari Baitul Mal, yang mengelola kekayaan alam melimpah untuk kepentingan rakyat.

Penutup

Anak-anak sehat membutuhkan perhatian keluarga, dukungan masyarakat, dan tanggung jawab negara. Negara yang taat kepada Allah Swt. akan mengatur kehidupan sesuai syariat-Nya. Kebahagiaan dan kesehatan anak-anak hanya akan terjamin bila negara menetapkan aturan Allah.

Wallahualam bissawab. []

Baca juga:

0 Comments: