Headlines
Loading...
Oleh. Iis Nopiah Pasni

Bunda Isna membuatkan jus buah semangka memakai blender. Blender itu dibelikan adiknya Chania yang tinggal di Bengkulu. Sebuah blender baru merk Ph*l*ps yang terkenal keren dan tahan lama.

Chania dan suaminya sudah pulang lagi ke Bengkulu, mereka menginap di Muara Enim hampir seminggu. Melelahkan tapi harus mereka jalani.  Semua berharap Allah  memudahkan segalanya.

Waktu terus berlalu, kadang bahagia dan kadang sedih. Bunda Isna juga merasakan begitu, terutama ketika ayahnya sakit. Ia ingin orang terkasih itu sembuh seperti sedia kala.

Seminggu sudah semua ia bolak-balik ke rumah sakit. Bunda Isna bertugas menjaga anak-anak dan keponakan di rumah ibunya. Bunda Isna juga sigap menyediakan berbagai kebutuhan semisal air panas di termos, bantal, dan lainnya.

Adiknya satu lagi Cyik bertugas menjaga di rumah sakit. Sementara itu ia bolak-balik ke rumah sakit membawakan segala keperluan untuk berjaga di rumah sakit. Begitu pula kakaknya Zil dan adik bungsu Romadhan. Semua bergantian sesuai porsi masing-masing.

Kini ayah sudah dibolehkan untuk pulang. Lega rasanya bisa rawat jalan, merawat di rumah.

"Bolehkah cemburu, Bu?" tanya Bunda Isna pada ibunya ketika sang ibu turun ke lantai bawah sebentar.

"Cemburu? Kenapa?" sang ibu bertanya.

"Isna cemburu sama Ibu, semoga Isna dan suami bisa seperti itu ya, Bu," kata Isna penuh harap. Ibunya langsung memeluk Isna.

Siapa wanita tak akan cemburu melihat pemandangan tadi itu, saat Ibu menyeka wajah Bapak yang sedang berbaring memakai handuk tipis dengan air hangat. Tiba-tiba bapak memegang tangan ibu.

"Jangan jauh-jauh ya, Bu. Jangan tinggalkan Bapak karena sebentar lagi ada yang akan menjemput Bapak," kata Bapak dengan mata terpejam. 

"Ngomong apa sih, Pak," jawab Ibu kaget.

"Iya pokoknya akan ada yang menjemput," kata Bapak lagi.

"Pak, ibu minta maaf kalau selama ini banyak salah sama Bapak," ucap Ibu sambil menangis.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena tiada dosa diantara kita," jawab Bapak mantap sambil tersenyum masih dengan mata terpejam.

Masyaallah, indahnya suasana ini. Siapa yang tak akan cemburu melihat seorang istri telah diridai seorang suami. Kedudukan tertinggi seorang istri itu adalah ketika suami rida.

Isna langsung memeluk ibunya masih bertanya lagi.

"Ibu, Isna benar-benar cemburu pada Ibu," kata Isna sambil menangis lagi dan memeluk ibunya.

Ahad menjelang sore, tampak Isna memijit kaki Bapaknya. 

"Pak, kan ada Hadist Bukhari Muslim, itu orangnya satu apa dua?" tanya Isna polos.

"Dua orang," jawab beliau singkat.

"Oh ya, hadist Ahmad itu sahih," kata beliau lagi.

"Iya Pak," jawab Isna sambil terus memijit kakinya.

"Assalamualaikum, Cyik datang, Pak," kata adikku mengucap salam baru datang.

"Waalaikumsalam, masuk dek," jawab Isna sambil menggeser posisi duduknya.

Cyik merapikan posisi kaki Bapak, Bapak malah meluruskan sendiri kakinya dan bersedekap.

Tiba-tiba, Kaki Bapak terasa dingin. Cyik panik. langsung memanggil kak Zil, lalu ibu memerintahkan Isna untuk membaca Alquran. Ibu  berkata:

"Pak, ibu sudah ikhlas, urusan hutang dan lain-lain insyaallah akan Ibu selesaikan," kata Ibu pelan sambil menangis.

Kakak tertua, kak Zil membisikkan kalimat talqin di telinga bapak.

Jiwa yang tenang itu telah  tiada. Kembali menghadap sang pemiliknya.

"Innalillahi wa innailaihi rojiun semoga Bapak husnul khatimah. Aamiin," ucap keluarga yang berduka itu hampir berbarengan dengan berurai air mata, dan rasanya sesak, sakit dan duka dalam.

Beliau telah memilih cara kematiannya, seperti kebiasaan yang selalu Beliau lakukan yaitu menyampaikan ajaran Islam.

Sungguh indahnya, semoga kelak ketika kematian datang, semoga Allah takdirkan mati dalam keadaan husnul khatimah, Aamiin. Bisik Bunda Isna pada dirinya sendiri.

Bolehkah cemburu?

Muara Enim, 07 Desember 2022

Baca juga:

0 Comments: