Oleh: Eka Suryati
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Hari ini aku sedang merenung, duduk terdiam seorang diri. Layar HP kugulir ke atas dan ke bawah. Ada gambar Ka’bah terpampang di depan mata. Aku tersenyum menatapnya, seakan berpesan, “Tunggu aku ya, di sana.”
Lalu, postingan demi postingan tentang haji kubaca dan kulihat. Aku merasakan ada rindu yang tak selalu bisa disampaikan kepada manusia. Rindu yang tak memiliki alamat selain langit. Ia tak membutuhkan kata-kata panjang, cukup lirih yang terucap dalam sujud. Rindu itu kutitipkan kepada Allah melalui doa.
Aku tak tahu sejak kapan rasa itu tumbuh. Perlahan, tanpa kusadari, ia mengisi ruang hati. Setiap kali mendengar tentang Baitullah, setiap kali melihat Ka’bah dalam gambar atau cerita, ada getaran halus yang sulit dijelaskan. Seolah hati ini berkata, “Aku ingin ke sana.”
Namun, aku sadar bahwa keinginan saja tidak cukup. Perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar tentang mampu, tetapi tentang dipanggil. Dan aku masih menunggu panggilan itu. Panggilan yang selalu kurindu.
Di situlah doa menjadi tempatku bersandar.
Dalam setiap sujud, dalam setiap waktu yang terasa sunyi, aku menyebut nama-Nya dengan harap yang sederhana. Tidak dengan tuntutan, tidak pula dengan kepastian, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar.
Allah Swt. berfirman,
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)
Ayat ini selalu menguatkan bahwa tak ada doa yang sia-sia. Bahwa setiap rindu yang disampaikan kepada Allah akan sampai kepada-Nya dengan cara terbaik.
Maka aku terus berdoa.
Bukan hanya tentang langkah kaki yang ingin sampai ke Tanah Suci, tetapi juga tentang hati yang ingin dipantaskan. Sebab, apa artinya sampai di sana jika hati ini belum benar-benar siap untuk dekat dengan-Nya?
Rindu ini mengajarkanku banyak hal. Tentang sabar, tentang menahan keinginan, dan tentang percaya pada waktu yang Allah tetapkan. Kadang terasa lama, kadang terasa jauh. Namun, justru di situlah aku belajar bahwa menunggu juga bagian dari ibadah.
Aku percaya, Allah tidak pernah menumbuhkan rindu tanpa tujuan. Jika hari ini hati ini begitu ingin datang ke rumah-Nya, pasti ada alasan di balik itu semua. Mungkin Allah sedang mengajarkanku untuk lebih dekat terlebih dahulu sebelum benar-benar datang.
Bukankah perjalanan ke Baitullah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati? Maka, hati terlebih dahulu yang harus ditata sambil menjaga fisik agar tetap sehat ketika saatnya tiba.
Biarlah rindu ini tetap hidup. Biarlah ia menjadi pengingat dalam setiap langkah bahwa ada tujuan yang lebih besar daripada sekadar dunia. Ada tempat yang ingin kutuju, ada panggilan yang sedang kunanti, yaitu panggilan Allah menuju rumah-Nya.
Dan selama panggilan itu belum datang, aku akan terus menitipkan rindu ini kepada Allah melalui doa-doa nan lirih.
Dalam diam yang penuh harap, dalam sujud yang panjang, dan dalam air mata yang tak selalu terlihat, ada asa yang terus kupupuk agar menjadi nyata. Karena aku yakin, Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya.
Suatu hari nanti, mungkin pada waktu yang tak pernah kuduga, doa-doa itu akan menemukan jawabannya. Mungkin tidak dengan cara seperti yang kubayangkan, tetapi pasti dengan cara terbaik menurut-Nya. Sebab, Allah Maha Tahu kapan saatnya.
Allah Swt. juga berfirman,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa menilai suatu keadaan, terlebih berprasangka buruk terhadap apa yang belum kita pahami. Tidak semua yang tertunda adalah penolakan dan tidak semua yang berbeda dari harapan merupakan keburukan. Bisa jadi, di balik hal yang terasa tidak sesuai dengan asa, Allah sedang menyimpan kebaikan yang belum kita lihat. Sebab, Allah sangat mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan sekadar apa yang kita inginkan.
Karena itu, aku tidak ingin tergesa-gesa. Aku hanya ingin terus berdoa.
Menjaga rindu ini agar tetap hangat, tetap hidup, dan tetap terarah kepada-Nya. Bagiku, rindu ini bukan beban. Rindu ini adalah pertanda cinta. Ia merupakan anugerah dari Allah untukku, anugerah yang menjadi pengingat agar terus kembali kepada-Nya.
Dan sampai hari itu tiba, saat kaki ini benar-benar melangkah menuju Baitullah, biarlah rindu ini tetap kutitipkan kepada Pemilik Semesta melalui doa. Dengan harap yang tak pernah padam dan keyakinan bahwa Allah pasti mendengar.
Ya Allah, pantaskanlah hati kami untuk menjadi tamu-Mu. Bersihkan niat kami, kuatkan ikhtiar kami, dan lapangkan jalan kami.
Ya Allah, titipkanlah kami dalam takdir terbaik-Mu. Jika belum saatnya kami sampai, dekatkanlah hati kami kepada-Mu. Dan jika Engkau berkenan, panggillah kami suatu hari nanti menjadi tamu di Baitullah-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Kotabumi, 2 Mei 2026
[MA/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: