Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)
SSCQmedia.com—Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional dirayakan dengan gegap gempita. Spanduk dipasang, pidato bergema, dan slogan disebarkan. Namun, kenyataan di lapangan berbicara sebaliknya. Kekerasan di sekolah meningkat, kecurangan akademik dianggap hal biasa, dan penyalahgunaan narkoba mulai menyentuh pelajar. Fakta ini sungguh memilukan. Ini menjadi tanda bahwa dunia pendidikan sedang sakit, bahkan sakitnya telah mencapai akar persoalan.
Pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat semuanya memiliki andil terhadap berbagai persoalan pendidikan saat ini. Pemerintah memang terus bergerak. Dalam berita Antara, 28 April 2026, diangkat semangat “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Program digitalisasi, perbaikan fasilitas, hingga peningkatan kesejahteraan guru terus dilakukan. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah sarana dan prasarana tersebut benar-benar menyelesaikan masalah, atau sekadar memperindah tampilan luar?
Masalah utama bukan terletak pada gedung, kurikulum teknis, ataupun metode belajar semata. Akar kerusakan justru berada pada arah pendidikan itu sendiri. Pendidikan hari ini tidak lagi berfokus membentuk manusia, melainkan sibuk mencetak lulusan. Akibatnya, lahirlah generasi yang pintar, tetapi tidak memiliki pegangan dan mengalami krisis iman. Cerdas, tetapi mudah goyah. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil bentukan sistem yang salah arah.
Kerusakan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan tetapi pasti sejak pendidikan dilepaskan dari nilai yang menjadi fondasinya. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, pendidikan kehilangan arah. Sejak saat itu, pendidikan berjalan tanpa tujuan yang jelas. Dampaknya kini tampak nyata di tengah masyarakat.
Kerusakan ini akan terus terjadi karena setiap elemen tidak menjalankan perannya sebagaimana mestinya. Banyak orang tua menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat pertama anak belajar tentang benar dan salah. Anak yang tidak dibangun dengan akidah yang kuat sejak kecil akan mudah hanyut oleh arus luar. Sistem hari ini pun memaksa orang tua, terutama ibu, sibuk bekerja demi bertahan hidup sehingga pendidikan anak sering kali terabaikan.
Masyarakat juga ikut memperparah keadaan. Lingkungan yang membiarkan pergaulan bebas, tontonan rusak, dan berbagai penyimpangan terbuka membuat pendidikan di rumah dan sekolah tidak cukup kuat membentengi generasi. Ketika masyarakat kehilangan standar benar dan salah, generasi pun tumbuh tanpa batas yang jelas.
Sekolah juga turut membentuk pola yang salah. Banyak sekolah terjebak pada orientasi angka. Nilai tinggi dianggap lebih penting daripada kejujuran. Menyontek, joki ujian, dan plagiarisme dianggap lumrah. Ini bukan sekadar kesalahan siswa, tetapi bukti nyata gagalnya sistem pendidikan dalam membangun karakter.
Guru pun kehilangan wibawa. Banyak guru takut bertindak karena khawatir berhadapan dengan hukum. Tidak sedikit kasus siswa melawan guru hingga berujung pada proses hukum. Ketika guru tidak lagi dihormati, saat itu pula pendidikan hanya menjadi formalitas.
Negara sebagai pemegang kendali justru mengarahkan pendidikan pada kepentingan pasar. Pendidikan dijadikan alat untuk mencetak tenaga kerja, bukan membentuk manusia berakhlak. Sungguh miris, wajah pendidikan dalam sistem kapitalistik menilai manusia dari manfaat ekonominya, bukan kualitas kepribadiannya.
Jalan keluar yang bersifat tambal sulam hanya akan melahirkan masalah baru. Perbaikan tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Apa pun yang dilakukan secara setengah hati hanya akan menghasilkan solusi yang tidak tuntas dan mengulang masalah yang sama. Yang dibutuhkan adalah perubahan total, dari akar hingga ujungnya.
Pertama, individu harus kembali pada perannya. Orang tua wajib menjadi pendidik utama. Anak harus dididik dengan akidah yang kuat sejak dini. Pendidikan tanpa landasan akidah akan rapuh.
Kedua, masyarakat harus berhenti menjadi penonton. Lingkungan harus dijaga. Toleransi terhadap budaya yang merusak harus dicegah. Masyarakat harus berani menetapkan batas yang jelas antara benar dan salah.
Ketiga, sekolah harus mengubah arah. Pendidikan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada angka. Kejujuran dan prestasi harus berjalan seimbang demi kemaslahatan umat. Guru pun harus dikembalikan wibawanya agar mampu mendidik dengan tegas.
Semua itu tidak akan berjalan tanpa peran negara yang benar. Negara adalah penentu arah. Jika arah yang ditetapkan salah, seluruh sistem akan ikut salah. Negara harus berhenti menjadikan pendidikan sebagai alat ekonomi. Pendidikan harus dikembalikan pada fungsi utamanya, yaitu membentuk manusia yang berkepribadian Islam.
Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan terbukti gagal. Sistem yang rusak hanya akan melahirkan solusi tambal sulam yang tidak pernah tuntas. Karena itu, perubahan mendasar tidak bisa lagi ditunda.
Syariah harus dijadikan landasan, bukan sekadar pelengkap, tetapi dasar utama. Dalam naungan syariah dan khilafah, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk ketakwaan. Anak dididik agar sadar bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Khilafah sebagai institusi negara menjalankan perannya secara menyeluruh. Negara bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan. Pendidikan diberikan secara gratis, berkualitas, dan berorientasi pada pembentukan kepribadian Islam. Kurikulum tidak disusun untuk kepentingan pasar, melainkan untuk membentuk manusia yang siap memimpin dan memberi manfaat bagi umat.
Keluarga menanamkan dasar, sekolah memperkuat, masyarakat menjaga, dan negara mengatur secara tegas. Semua berjalan dalam satu arah yang sama, mewujudkan rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, termasuk dalam dunia pendidikan. Tidak ada benturan dan tidak ada kebingungan nilai. Inilah sistem yang pernah melahirkan generasi unggul dalam sejarah.
Khilafah bukan sekadar angan-angan, melainkan fakta sejarah yang pernah ada dan terbukti. Peradaban Islam mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan mampu memimpin dunia.
Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Momentum ini harus menjadi titik balik untuk melihat kondisi pendidikan secara jujur agar akar persoalannya tampak jelas. Jika sistemnya yang salah, maka solusi satu-satunya adalah menggantinya.
Tidak ada lagi waktu untuk menunda. Generasi harus segera diselamatkan dan perubahan harus dilakukan sekarang juga. Syariah dan khilafah bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa landasan yang jelas, pendidikan akan terus melahirkan generasi yang kehilangan arah.
Jika benar peduli pada masa depan sebuah peradaban, maka beranilah mengambil langkah besar: mengubah sistem, meluruskan arah, dan mengembalikan pendidikan pada tujuan yang sebenarnya.
Wallahu a‘lam bishshawab. [My/HEM]
Baca juga:
0 Comments: