Headlines
Loading...
Jejak Ramadan: Ikhtiar Menjaga Istikamah

Jejak Ramadan: Ikhtiar Menjaga Istikamah

Oleh: Maya Rohmah
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Bersyukur, bersyukur, dan terus bersyukur. Itulah rasa pertama yang memenuhi hati saat mengenang pertemuan dengan Ramadan tahun ini. Tidak semua orang diberi kesempatan yang sama. Ada yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah lebih dahulu berpulang. Maka ketika Allah masih mengizinkan kita bertemu kembali dengan bulan penuh berkah ini, rasanya seperti mendapat hadiah yang tak ternilai. Masih diberi umur untuk Ramadan kali ini, bisik hati kecil, dan kalimat itu cukup membuat mata berkaca-kaca.

Ramadan tahun ini terasa begitu menenangkan. Ada ketenteraman yang berbeda ketika hari-hari diisi dengan tilawah, doa, dan ibadah yang lebih terjaga. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang sia-sia.

Alhamdulillah, Ramadan kali ini dapat berkumpul bersama keempat anak. Dua anak yang belajar dan tinggal di pesantren pun pulang dan menghabiskan masa libur di rumah. Menjalani peran sebagai seorang ibu bukan hanya tentang mendidik diri sendiri, tetapi juga membersamai anak-anak dalam menjalani Ramadan dengan penuh makna.

Dakwah di Tengah Lapar dan Lesu

Ada satu hal yang sangat terasa selama Ramadan, yaitu kondisi fisik yang tidak selalu prima. Lapar dan haus terkadang membuat tubuh melemah. Tidak hanya itu, objek dakwah pun sering merasakan hal yang sama. Ada yang mudah lelah, ada yang semangatnya menurun untuk hadir dalam kajian. Sebagian bahkan memilih menunda dengan alasan ingin fokus pada pekerjaan rumah tangga selama Ramadan.

Namun, di situlah letak pelajaran berharga. Dakwah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi. Justru dalam situasi seperti ini, keikhlasan benar-benar diuji. Tetap hadir, tetap menyapa, dan tetap mengajak meski respons tidak selalu sesuai harapan. Terkadang yang hadir hanya sedikit, suasana tidak seramai biasanya, tetapi setiap langkah kecil itu tetap bernilai di sisi Allah.

Dakwah menjadi amal yang ingin terus dijaga. Bukan karena merasa mampu, tetapi karena menyadari betapa besar kebutuhan umat akan pengingat. Semoga setiap usaha yang tampak sederhana ini diterima oleh Allah, menjadi pemberat timbangan kebaikan, dan menjaga hati agar tetap lurus dalam melangkah.

Beberapa agenda Ramadan yang alhamdulillah dapat dijalankan dengan maksimal adalah menghidupkan malam dengan salat. Qiyamul lail di bulan Ramadan terasa begitu istimewa. Ada suasana yang berbeda ketika malam tidak hanya diisi dengan istirahat, tetapi juga dengan berdiri di hadapan Allah. Dalam setiap sujud, terpanjat harapan, pengakuan dosa, dan keinginan untuk menguatkan cinta kepada-Nya. Rasulullah saw. bersabda bahwa siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Ramadan juga menumbuhkan empati yang lebih dalam, bukan hanya kepada orang-orang di sekitar, tetapi juga kepada saudara-saudara di belahan dunia lain. Saat menahan lapar dan haus, teringat saudara-saudara di Palestina yang tidak hanya berpuasa, tetapi juga berjuang dalam keterbatasan. Di tengah kekurangan makanan, ancaman, dan ketidakpastian hidup, mereka tetap bertahan, tetap beribadah, dan tetap menjaga iman. Pertanyaan tentang keadaan mereka sering hadir dan menggugah hati.

Dari sana tersadari bahwa ujian yang kita hadapi belum seberapa. Empati tidak seharusnya berhenti pada rasa iba, tetapi harus mendorong kepedulian melalui doa, dukungan, dan kesadaran bahwa umat ini adalah satu tubuh. Ketika satu bagian sakit, bagian lain seharusnya turut merasakan.

Namun, Ramadan telah berlalu. Pertanyaannya, apakah semangat itu ikut pergi. Di sinilah muhasabah menjadi penting. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi momen musiman, ketika semangat ibadah meningkat lalu kembali menurun setelahnya. Justru Ramadan seharusnya menjadi titik awal perubahan. Apa yang sudah baik perlu dijaga, dan apa yang belum maksimal harus diperbaiki.

Komitmen yang ingin ditanamkan pasca Ramadan ini sederhana, tetapi tidak mudah, yaitu menjaga istikamah dalam kebaikan. Perjalanan ini panjang. Akan ada rasa lelah dan lalai. Namun yang Allah lihat adalah usaha untuk terus kembali. Selama masih diberi kesempatan, langkah harus terus dijaga, walau sedikit demi sedikit, tetapi konsisten.

Ya Allah, jangan jadikan Ramadan ini berlalu tanpa perubahan. Jadikan ia sebagai awal langkah menuju kebaikan yang lebih nyata. Kuatkan untuk menjaga amal-amal yang telah dibangun. Satukan hati kaum muslimin, kuatkan saudara-saudara di Palestina, dan izinkan untuk kembali bertemu Ramadan berikutnya dalam keadaan yang lebih siap, lebih bersih, dan lebih dekat kepada-Mu. Aamiin. [An/Des]

Baca juga:

0 Comments: