Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)
SSCQmedia.com—Lelah yang tak tampak di wajah itu nyata adanya. Rasanya begitu berat—lelah karena terus berusaha terlihat baik di mata orang lain, ingin diakui dan dihargai. Namun kenyataannya justru sebaliknya: diremehkan, bahkan dilupakan.
Di sinilah pentingnya jujur pada diri sendiri: sebenarnya hidup ini untuk siapa? Jika hanya untuk mengejar penilaian manusia, maka rasa cukup tak akan pernah tercapai.
Masalahnya bukan sekadar kelelahan, melainkan salah arah. Banyak orang menilai dirinya berdasarkan standar manusia yang tidak pernah konsisten: hari ini dipuji, esok bisa dicela; hari ini dianggap penting, esok dilupakan. Jika hidup terus bergantung pada penilaian manusia, kegoyahan akan selalu menyertai.
Padahal, ada satu yang pasti: hanya Allah yang tidak pernah berubah, tidak pernah meninggalkan, dan tidak pernah menolak hamba-Nya yang datang dengan tulus memohon kasih sayang-Nya.
Sering kali manusia terjatuh pada kesalahan mendasar: meninggalkan yang pasti, lalu mengejar yang belum tentu dengan sepenuh tenaga. Menginginkan ketenangan, tetapi enggan untuk taat. Mendambakan cinta Allah, namun aturan-Nya dipilah-pilih sesuai keinginan. Inilah akar kegelisahan yang tak kunjung usai.
Harus diakui, banyak yang menjalani Islam dengan setengah hati. Ibadah dilakukan, tetapi aturan hidup sering diabaikan. Yang ringan diambil, yang terasa berat ditinggalkan, namun tetap berharap pahala besar.
Padahal, amar makruf nahi mungkar adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Berbuat baik harus disertai upaya mencegah kemungkaran. Ketika prinsip ini ditinggalkan, hidup terasa kosong dan tidak utuh. Bukan karena Islam kurang sempurna, melainkan karena kita belum menjalaninya secara menyeluruh. Sebab, tidak ada sistem hidup yang membuahkan hasil jika hanya dijalankan separuh.
Di sinilah pentingnya peran individu dalam mewujudkan perubahan. Setiap orang harus berani menentukan sikap: mengikuti arus atau berdiri di atas kebenaran. Ia perlu menuntut ilmu, karena tanpa ilmu, arah hidup mudah terseret oleh perasaan dan tekanan lingkungan.
Orang yang memahami tujuan hidupnya tidak akan sibuk mengejar pengakuan manusia. Ia menyadari bahwa nilai dirinya ditentukan oleh Allah, bukan oleh komentar orang lain. Ia juga yakin bahwa di balik setiap ujian ada pelajaran—yakni kesabaran. Dari kesadaran itulah lahir keteguhan: pribadi yang tidak mudah runtuh dan tidak terombang-ambing oleh keadaan.
Namun, individu tidak hidup di ruang kosong. Ia membutuhkan lingkungan yang menguatkan. Karena itu, masyarakat memiliki peran besar dalam menentukan arah perubahan: mendukung proses perbaikan individu, bukan justru melemahkan atau mengejeknya.
Dalam Islam, amar makruf nahi mungkar bukan sekadar konsep, melainkan wujud nyata kepedulian. Ketika ada yang keliru, diluruskan; ketika ada yang mulai menjauh, didekatkan kembali.
Sayangnya, yang terjadi sering kali sebaliknya. Banyak yang mengetahui kesalahan, tetapi memilih diam. Bahkan, ada yang membenarkannya dengan dalih toleransi. Demi terlihat bijaksana, mereka mengikuti arus—padahal itu bentuk pembiaran.
Ketika keburukan dibiarkan, lama-kelamaan akan dianggap wajar. Dan ketika kebenaran tidak dibela, yang benar pun terasa asing.
Pada titik ini, peran negara tidak bisa diabaikan. Negara bukan sekadar pengatur administrasi, melainkan penentu arah kehidupan rakyatnya. Ia harus hadir sebagai penjaga nilai, pelindung masyarakat, sekaligus penegak sistem kehidupan.
Negara berkewajiban menyediakan sarana agar individu dapat menuntut ilmu, masyarakat dapat saling menguatkan, dan aturan dapat berjalan secara adil. Tanpa landasan yang benar, kekacauan mudah terjadi: hukum bisa diperjualbelikan, keadilan dipermainkan, dan rakyat hidup dalam tekanan.
Ini bukan sekadar kegagalan menjalankan amanah, melainkan kekeliruan dalam menentukan sistem sebagai landasan kehidupan.
Padahal, Islam telah memberikan panduan yang lengkap—tidak hanya untuk ibadah pribadi, tetapi juga kehidupan sosial dan pengelolaan negara. Solusinya sudah jelas. Pertanyaannya, apakah kita bersedia menjalankan syariat secara utuh, atau tetap memilih setengah-setengah?
Jika individu mau memperbaiki diri dengan ilmu, masyarakat mendukung perubahan, dan negara berkomitmen menghadirkan sistem yang benar, maka perubahan bukanlah hal yang mustahil. Justru itulah jalan yang paling logis dan nyata.
Hari ini, hidup terasa sempit, hati terasa kosong, dan arah terasa kabur—bukan semata karena beban hidup terlalu berat, melainkan karena manusia menjauh dari pedoman yang seharusnya diikuti. Ketika Allah dilupakan, arah pun hilang.
Berhentilah menjalani hidup dengan setengah hati. Perbaiki diri dengan ilmu, bangun lingkungan yang peduli, dan dorong negara menghadirkan sistem yang benar. Dengan itu, hidup tidak hanya menjadi lebih tenang, tetapi juga lebih jelas tujuannya.
Kita tidak lagi bergantung pada manusia, melainkan kembali kepada Allah—satu-satunya tempat bergantung yang tidak pernah mengecewakan.
Wallahualam bissawab. [Ni/HEM]
Baca juga:
0 Comments: