Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Bus yang membawa rombongan Arkan perlahan memasuki batas tanah haram Makkah. Suasana di dalam bus berubah total. Tidak ada lagi obrolan ringan atau tawa. Yang terdengar hanyalah gemuruh talbiyah yang semakin kencang, bersahut-sahutan antara jemaah laki-laki dan perempuan.
Arkan menggenggam pinggiran kain ihramnya yang putih bersih. Jantungnya berdegup tak menentu, seperti menunggu pengumuman paling penting dalam hidupnya.
Lampu-lampu Kota Makkah bersinar terang, tetapi mata Arkan hanya tertuju pada satu titik di kejauhan: menara-menara Masjidilharam. Ia teringat kembali catatan kakeknya yang sempat ia baca.
"Makkah adalah tempat di mana air mata tidak lagi memalukan. Di sini, menangis adalah tanda bahwa hatimu akhirnya pecah untuk membiarkan cahaya Allah masuk."
Begitu melangkah melalui gerbang besar masjid, Arkan menundukkan pandangan. Ia mengikuti langkah Ayah dengan hati yang bergetar hebat. Saat Ayah membimbingnya untuk mendongak, tepat di hadapannya berdiri bangunan kubus hitam yang agung dan berwibawa: Ka’bah.
Seketika, lutut Arkan terasa lemas. Perasaan yang membuncah di dadanya tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Ia teringat sebuah ayat dalam Juz 7, Surah Al-Ma’idah ayat 83:
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), engkau melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran yang telah mereka ketahui; seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.’” (QS Al-Ma’idah: 83)
Ayat itu seolah memotret kondisi Arkan saat itu. Air matanya mengalir bukan karena sedih, melainkan karena ia melihat kebenaran di depan matanya. Ia merasa sangat kecil, namun sekaligus sangat dicintai karena diundang hadir sebagai tamu-Nya.
Arkan mulai melangkah melaksanakan tawaf. Di tengah jutaan manusia, ia menyadari satu hal penting: di sini, ego tidak memiliki tempat. Jika ia melawan arus dengan kasar, ia akan lelah. Namun, jika ia mengikuti aliran jemaah dengan sabar, ia justru terbawa dengan ringan. Sebuah pelajaran besar baginya bahwa berserah diri bukan berarti kalah, melainkan mengikuti ritme yang telah Allah tetapkan.
Setelah tawaf, Arkan melanjutkan sa’i, berlari kecil antara Safa dan Marwa. Ia membayangkan perjuangan Siti Hajar di tengah padang pasir. Arkan pun memahami bahwa perjuangannya sebagai remaja—belajar, menghadapi ekspektasi orang tua, hingga mencari jati diri—memang melelahkan. Namun, jika semua itu diarahkan kepada Allah, lelah itu akan bernilai ibadah.
Perjalanan ditutup dengan tahalul, memotong sebagian rambut sebagai simbol pembersihan. Saat helai-helai rambutnya jatuh, Arkan merasa seolah sifat kekanak-kanakannya ikut luruh. Ia bukan lagi Arkan yang mengeluh karena harus berangkat haji. Ia adalah Arkan yang bersyukur karena telah “dijemput” hidayah di usia mudanya.
Selesai ibadah, Arkan berdiri di pelataran masjid, menatap Ka’bah untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke hotel. Ia mengeluarkan buku catatan kakeknya dan menuliskan satu kalimat di halaman terakhir yang masih kosong:
"Makkah, 2026. Kek, akhirnya Arkan mengerti. Ternyata haji bukan sekadar perjalanan fisik ke tanah suci, tetapi perjalanan hati untuk kembali kepada-Nya. Terima kasih sudah menitipkan catatan ini."
Arkan tersenyum lebar. Ia tahu, saat pulang ke Magelang nanti, ia akan membawa oleh-oleh yang tak akan pernah habis: hati yang baru dan semangat untuk menjadi saksi atas kebesaran Allah di mana pun ia berada.
Perjalanan spiritual ini mungkin berakhir di sini, tetapi perjalanan hidupnya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Tamat.
[Ni/Ekd]
Baca juga:
0 Comments: