Di Antara Shafa dan Marwah, Harapan Ditemukan
Oleh: Eka Suryati
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Kisah keteladanan keluarga Nabi Ibrahim tak pernah habis untuk ditelusuri. Ia selalu hidup, mengalir dari masa ke masa, menjadi pelita bagi hati yang ingin belajar tentang iman, ketundukan, dan cinta kepada Allah. Terlebih menjelang Iduladha, kisah itu kembali dihadirkan, bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga untuk direnungi dan dihidupkan dalam keseharian.
Dari sekian banyak kisah yang menginspirasi, ada satu sosok yang begitu menggetarkan hati. Seorang perempuan tangguh yang berdiri di tengah ujian dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Keimanan dan ketakwaannya teruji bukan dengan kata-kata, melainkan melalui peristiwa yang menuntut keberanian dan kesabaran luar biasa.
Dialah seorang ibu yang dari rahimnya kelak lahir seorang anak yang menjadi bagian dari mata rantai para nabi hingga akhirnya sampai kepada Nabi Muhammad ï·º.
Dari kisahnya, kita belajar tentang satu hal yang sering dilupakan, bahwa harapan tidak ditemukan dalam diam, melainkan dalam langkah yang terus diusahakan.
Di Lembah Sunyi
Di tengah padang pasir yang menghampar, kesunyian begitu terasa. Tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya hamparan tanah tandus dan kering. Di saat itulah seorang ibu diliputi kegelisahan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana mendapatkan air bagi dirinya dan putranya yang sedang kehausan. Dialah Bunda Hajar.
Ia ditinggal Nabi Ibrahim di lembah tandus atas perintah Allah. Tak ada tanda kehidupan yang terlihat. Jejak manusia pun tak ada sebagai tempat meminta pertolongan. Namun, keimanan Bunda Hajar begitu teguh dan tak tergoyahkan. Saat mengetahui bahwa keberadaannya di lembah sunyi itu adalah atas perintah Allah, hatinya mantap. Ia yakin Allah tidak akan meninggalkannya sendirian.
Namun, putranya, Ismail, menangis karena rasa haus dan lapar. Naluri keibuannya pun bangkit. Ia tidak tinggal diam. Ia bergerak dan melangkah mencari sumber air agar dahaga putranya terobati.
Dengan tergesa, ia berlari menuju Bukit Shafa. Matanya menatap jauh ke depan, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan. Namun, sejauh mata memandang, tak ada apa pun selain hamparan tandus.
Ia lalu turun menuju Marwah. Dalam hati, ia terus berdoa agar menemukan apa yang dicarinya. Namun, lagi-lagi ia tak mendapatkan apa pun. Ia kembali ke Shafa, lalu ke Marwah. Demikian terus dilakukan hingga tujuh kali.
Tujuh kali perjalanan itu menjadi bukti bahwa Bunda Hajar tidak berdiam diri. Ia berusaha semampunya. Dan di saat itulah pertolongan Allah datang.
Pertolongan Allah ternyata hadir bukan ketika ia duduk pasrah, bukan pula ketika menyerah dalam diam. Pertolongan itu datang setelah ia berlari, berikhtiar, dan melakukan segala yang mampu ia lakukan sebagai seorang hamba.
Sa'i Pertama
Peristiwa berlarinya Bunda Hajar dari Shafa ke Marwah kini dikenal dengan nama sa'i. Secara makna, sa'i berarti berusaha, berjalan, atau berlari kecil dengan sungguh-sungguh. Dalam ibadah haji dan umrah, sa'i merupakan rangkaian berjalan atau berlari kecil sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah. Itulah sa'i pertama dalam sejarah manusia, dilakukan oleh seorang ibu yang berjuang karena Allah demi anaknya.
Ini bukan peristiwa biasa. Ini adalah pengorbanan tanpa batas seorang hamba Allah yang dijalankan tanpa keluh kesah, taat tanpa syarat, dan penuh keyakinan tanpa keraguan.
Hingga pada putaran ketujuh, saat Bunda Hajar tiba di Marwah, seluruh kemampuan telah ia kerahkan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menoleh ke arah Ismail, putranya. Saat itulah pertolongan Allah datang. Di dekat kaki Ismail kecil memancarlah mata air. Bunda Hajar berkata, “Zamzam... zamzam,” yang berarti “berkumpullah, berkumpullah.”
Air itu terus mengalir. Air yang bukan hanya menyelamatkan mereka saat itu, tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi banyak manusia hingga hari ini.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah...”
(QS. Al-Baqarah: 158)
Dari kisah ini, kita belajar bahwa pertolongan Allah datang bukan saat kita diam, melainkan setelah berusaha dengan sungguh-sungguh. Pada detik-detik akhir ikhtiar itulah Allah menurunkan pertolongan-Nya.
Karena itu, ketika kesulitan datang, teruslah berdoa, berikhtiar semaksimal mungkin, lalu bertawakallah kepada Allah. Kelak Allah akan memberikan “zamzam” terbaik dalam kehidupan kita.
Di antara Shafa dan Marwah kehidupan, harapan selalu ada bagi mereka yang tidak berhenti melangkah.
Kotabumi, 30 April 2026
[Rn/PR]
Baca juga:
0 Comments: