Oleh: Eka Suryati
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Dalam remang sore usai hujan yang menyisakan basah di dedaunan, terucap doa dalam diam. Doa itu lahir dari rindu yang berbuah asa. Asa yang kupanjatkan dalam dialog sunyi kepada Allah agar kelak langkah ini tertuju pada sebuah tempat, Baitullah.
Belum pernah diriku menjejakkan kaki di sana. Aku juga belum pernah menyaksikan Ka’bah dengan mata sendiri atau larut dalam lautan manusia yang mengucap talbiyah dengan suara bergetar. Namun entah mengapa, hati ini selalu merindukannya. Seakan aku telah mengenalnya, bukan hanya sekadar dari gambar. Seolah ada ikatan halus yang menghubungkan jiwa dengan tempat itu, ikatan yang membuatku ingin datang meski jalan ke sana belum terbuka.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, kapan aku seperti mereka yang telah Allah panggil ke tanah suci? Kapan namaku tercatat sebagai tamu Allah? Namun, pertanyaan itu bukanlah keluhan, melainkan harapan yang begitu kuat. Perlahan, tanya itu berubah menjadi doa. Aku percaya bahwa panggilan ke Baitullah bukan sekadar tentang kemampuan, tetapi tentang undangan dari Allah.
Pernah kubaca sebuah tulisan, jangan berprasangka buruk kepada Allah. Terkadang, yang diundang-Nya justru mereka yang dianggap belum baik. Bisa jadi karena Allah sedang membukakan jalan bagi mereka untuk kembali.
Sebaliknya, bagi mereka yang merasa telah berbenah dan penuh harap, mungkin Allah masih begitu menyayangi mereka. Allah ingin doa-doa terus dilangitkan dan harapan terus diazamkan dalam hati sebagai tanda cinta tulus seorang hamba kepada Khaliknya.
Dalam penantian ini, aku mulai memahami sesuatu tentang kesabaran. Ini bukan sekadar menunggu waktu, tetapi menyiapkan diri. Menyiapkan hati agar layak menjadi tamu-Nya. Sebab, bagaimana mungkin kita berharap diundang ke Baitullah jika hati kita masih jauh dari-Nya.
Ibarat puasa Ramadan, ia bukan tujuan akhir, melainkan awal perjalanan menuju istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah. Demikian pula perjalanan ke tanah suci, bukan sekadar langkah fisik, tetapi panggilan untuk meneguhkan ketaatan kepada-Nya.
Dari sanalah manusia ditempa menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Namun, sepulangnya dari sana, justru dimulailah ujian yang sesungguhnya, masih mampukah menjaga ruh haji dan umrah dalam kehidupan sehari-hari?
Ada kalanya rasa rindu ini terasa begitu kuat hingga membuat mata basah tanpa sebab yang jelas. Melihat orang lain berangkat haji, mendengar kisah mereka saat tawaf, atau sekadar melihat gambar Ka’bah, hati ini ikut bergetar. Bukan iri, melainkan keinginan yang begitu dalam untuk berada di sana dan merasakan kedekatan yang nyata dengan Allah.
Namun, aku belajar untuk tidak tergesa-gesa. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Ada yang dipanggil di usia muda, ada pula yang menanti hingga rambut memutih. Semua itu adalah bagian dari takdir terbaik yang Allah pilihkan.
Allah Swt. berfirman:
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah ...."
(QS. Al-Baqarah: 196)
Ayat ini mengingatkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi ibadah yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Karena itu, menanti pun menjadi bagian dari ibadah itu sendiri. Menanti dengan sabar, dengan prasangka baik kepada Allah, dan dengan keyakinan bahwa setiap doa tidak pernah sia-sia.
Dalam penantian ini, aku belajar memperbaiki diri. Belajar menjadi hamba yang lebih taat, lebih ikhlas, dan lebih bersyukur. Aku ingin saat panggilan itu benar-benar datang, aku tidak hanya siap secara materi, tetapi juga siap secara hati.
Aku ingin datang ke Baitullah dengan hati yang bersih, membawa rindu yang telah lama kupelihara. Ingin berdiri di hadapan Ka’bah bukan hanya sebagai pengunjung, tetapi sebagai hamba yang benar-benar ingin kembali kepada-Nya.
Menanti panggilan ke Baitullah juga mengajarkan bahwa rindu ini adalah nikmat. Tidak semua orang diberi rasa itu. Tidak semua hati tergerak untuk datang ke rumah Allah. Maka, ketika rindu itu hadir, itulah tanda bahwa Allah sedang mendekatkan kita, meski langkah kita belum sampai.
Aku percaya, suatu hari nanti Allah akan memanggil dengan cara yang mungkin tak pernah kuduga, pada waktu yang paling tepat menurut-Nya. Saat itu tiba, semua penantian ini akan terasa begitu indah. Setiap doa yang pernah kupanjatkan dan setiap air mata yang pernah jatuh akan menemukan jawabannya.
Untuk saat ini, biarlah aku terus menanti. Menanti dengan doa yang tak lelah kuucap. Menanti dengan hati yang terus belajar berserah. Menanti dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar.
Sebagaimana firman Allah Swt.:
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu ....'"
(QS. Ghafir: 60)
Ayat ini menjadi penguat di setiap langkah. Bahwa doa bukan sekadar harapan kosong, melainkan janji yang pasti. Mungkin tidak selalu dikabulkan sesuai keinginan kita, tetapi pasti diberikan dalam bentuk terbaik menurut Allah.
Karena itu, aku akan terus berdoa. Menyebut nama-Nya dalam setiap harap. Meminta dengan penuh keyakinan bahwa suatu hari nanti aku akan sampai. Bukan karena aku pantas, melainkan karena Allah berkenan mengundang.
Hingga hari itu tiba, biarlah rindu ini tetap hidup. Menjadi pengingat bahwa ada tujuan yang lebih besar daripada sekadar dunia. Bahwa ada tempat yang sedang menunggu dan ada panggilan yang sedang dipersiapkan.
Menanti panggilan ke Baitullah bukan tentang diam tanpa arah, tetapi tentang terus berjalan meski perlahan. Tentang memperbaiki diri meski sedikit demi sedikit. Tentang berharap tanpa pernah putus asa.
Sebab, aku tahu, jika Allah telah memanggil, tidak ada yang mampu menghalangi.
Semoga suatu hari nanti aku benar-benar bisa berkata,
“Aku telah memenuhi panggilan itu.”
Kotabumi, 29 April 2026
[Rn/PR]
Baca juga:
0 Comments: