Oleh: Siti Hulfiya
(Aliansi Penulis Rindu Islam)
SSCQmedia.com—Menapaki jalan kebenaran tidak akan pernah sepi dari ujian. Terkadang, seseorang harus memilih di antara dua cinta. Di saat itulah Allah Ta’ala benar-benar menguji seberapa besar cinta hamba-Nya kepada-Nya.
Hal ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw., yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia diuji antara kecintaannya kepada sang ibu, Hamnah binti Sufyan, dan keimanannya kepada Islam. Dalam kisah tersebut, ibunya sampai bersumpah tidak akan makan dan minum hingga Sa’ad meninggalkan agama Islam. Melihat ibunya dalam kondisi lemah, tentu hati seorang anak akan tersayat. Namun, karena kecintaannya kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, Sa’ad tetap teguh memegang keimanan.
Sa’ad berkata kepada ibunya, “Wahai Ibu, demi Allah, seandainya Ibu memiliki seratus nyawa lalu keluar satu per satu, aku tidak akan pernah meninggalkan agama ini.”
Sungguh, perkataan Sa’ad merupakan bukti nyata kecintaan kepada Islam. Para sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah saw. memiliki keimanan yang sangat kuat seiring beratnya ujian yang mereka hadapi. Pada zaman sekarang, sangat sulit menemukan keimanan seteguh para sahabat Nabi.
Mencintai ibu serta mencintai Allah dan Rasul-Nya merupakan kewajiban. Akan tetapi, Allah swt. juga mengingatkan hamba-Nya agar menjadikan cinta kepada Allah swt. dan Rasul-Nya sebagai cinta yang paling utama. Allah swt. berfirman yang artinya:
“Katakanlah (wahai Muhammad), jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”
(TQS At-Taubah: 24)
Begitulah Islam dengan jelas memposisikan cinta yang harus didahulukan. Namun, pada kenyataannya manusia sering terjebak dalam dua cinta dan tidak jarang lebih memilih cinta kepada makhluk-Nya.
Memang, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tampak abstrak karena tidak selalu terlihat efeknya secara langsung. Berbeda dengan cinta kepada makhluk, misalnya cinta kepada ibu yang membuat seorang anak mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara nyata. Akan tetapi, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya memberikan kebahagiaan hakiki, yakni ketika seseorang ditempatkan di surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Di sanalah orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya akan kekal di dalamnya. Sementara itu, cinta kepada manusia akan berakhir ketika kematian datang memisahkan.
Apa pun ujian dalam memilih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, hadapilah dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala bersama orang-orang beriman. Allah swt. Maha Teliti dan sangat keras siksa-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab. [ry/En]
Baca juga:
0 Comments: