Headlines
Loading...
Daycare, Luka yang Tersembunyi

Daycare, Luka yang Tersembunyi

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQmedia.com—Di tengah meningkatnya kebutuhan ekonomi, daycare tumbuh menjadi sektor bisnis yang menjanjikan. Ia tidak lagi sekadar tempat menitipkan anak, tetapi berkembang menjadi institusi yang menawarkan berbagai keunggulan, mulai dari pengenalan bahasa internasional, pembentukan karakter, hingga integrasi pendidikan formal sejak dini. Lokasinya pun strategis, dekat perkantoran dan pusat aktivitas keluarga muda. Bagi banyak orang tua, daycare tampak sebagai solusi praktis sekaligus modern dalam pengasuhan anak.

Namun, di balik citra tersebut, realitas pahit justru mencuat. Kasus penganiayaan anak di daycare kembali menampar nurani publik.

Kasus terbaru di Yogyakarta membuka tabir yang jauh lebih kelam. Sebuah daycare diduga melakukan kekerasan terhadap puluhan anak. Kesaksian orang tua korban begitu mengguncang: anak-anak diikat tangan dan kakinya, tidak dipakaikan baju, dan hanya mengenakan popok (bbc.com, 26/04/2026).

Lebih jauh, hasil penyelidikan menunjukkan sedikitnya 53 anak mengalami indikasi kekerasan fisik, sementara lebih dari 100 anak berpotensi menjadi korban secara psikologis. Anak-anak bahkan dikurung, diabaikan saat sakit, hingga ditempatkan dalam kondisi yang tidak manusiawi, semua demi efisiensi dan keuntungan ekonomi.

Fakta-fakta ini menjadi alarm keras bahwa institusi pengasuhan anak tidak selalu berjalan seiring dengan nilai perlindungan yang dibayangkan. Anak-anak yang seharusnya berada dalam ruang aman justru mengalami perlakuan kasar dari orang-orang yang dipercaya untuk merawat mereka.

Pada titik ini, sulit mengatakan bahwa masalah ini sekadar ulah “oknum”. Kasus di Yogyakarta justru mengungkap persoalan yang lebih mendasar: krisis cara pandang terhadap anak dan pengasuhan itu sendiri.

Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ini tidak lepas dari kerangka sistem yang melingkupinya, yakni kapitalisme. Dalam sistem ini, daycare pada akhirnya diposisikan sebagai usaha yang berorientasi laba. Efisiensi menjadi prioritas utama, sementara relasi emosional cenderung tereduksi. Anak pun berisiko diperlakukan sebagai objek layanan massal, bukan individu yang membutuhkan kasih sayang.

Motif ekonomi yang muncul dalam kasus di Yogyakarta menguatkan hal tersebut. Demi menekan biaya dan meningkatkan keuntungan, pengasuhan dijalankan secara mekanis, bahkan mengabaikan sisi kemanusiaan.

Bayangkan luka yang terbentuk ketika seorang anak, yang bahkan belum mampu berbicara, diikat tangan dan kakinya, dibiarkan tanpa pakaian, dan diperlakukan tanpa empati. Ini bukan sekadar kekerasan fisik, tetapi penghancuran kemanusiaan sejak dini.

Fenomena ini juga berkaitan erat dengan paradigma keliru tentang anak. Banyak orang tua memandang anak sebagai “aset masa depan” yang harus disiapkan sedini mungkin untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Akibatnya, sejak kecil anak dititipkan pada sistem: daycare, sekolah full day, hingga boarding school, sementara orang tua sibuk bekerja demi membiayai semua itu.

Ironisnya, pengorbanan tersebut sering kali dianggap sebagai bentuk kasih sayang.

Pandangan Islam

Dalam Islam, cara pandang ini diluruskan secara mendasar. Anak bukan komoditas, melainkan amanah dari Allah Swt.

Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ....”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab utama menjaga dan mendidik anak berada pada orang tua, bukan hanya secara fisik, tetapi juga ruhani.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban ....”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, pengasuhan bukan sekadar urusan teknis yang dapat sepenuhnya dialihkan, melainkan amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Dalam konteks ini, daycare, sebagaimana sistem lainnya, memiliki keterbatasan mendasar. Ia dirancang untuk menangani banyak anak sekaligus. Dalam kondisi demikian, mustahil kebutuhan emosional setiap anak dapat terpenuhi secara optimal. Kasih sayang bukan sesuatu yang bisa diproduksi secara massal.

Islam justru menempatkan peran ibu pada posisi yang sangat mulia dan strategis. Seorang ibu, dengan fitrahnya, memiliki kedekatan emosional yang tidak tergantikan. Ia memahami tangisan anak tanpa kata dan merasakan kegelisahan tanpa penjelasan. Kasih sayangnya lahir dari cinta, bukan sekadar tugas.

Allah Swt. bahkan menegaskan pentingnya kedekatan ini melalui perintah menyusui: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh ....”
(QS. Al-Baqarah: 233)

Ini bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga pembentukan ikatan emosional yang menjadi fondasi kepribadian anak.

Anak yang tumbuh dengan kasih sayang akan memiliki rasa aman, percaya diri, dan empati. Sebaliknya, kekurangan kasih sayang dapat menimbulkan luka batin yang berdampak panjang, seperti merasa tidak berharga, tertutup, hingga mengalami gangguan psikologis di masa depan.

Karena itu, anak bukan alat ambisi, melainkan ladang amal. Orang tua tidak akan ditanya tentang seberapa tinggi pencapaian duniawi anaknya, tetapi bagaimana ia mendidik dan menjaganya.

Islam juga menawarkan solusi sistemik. Nafkah keluarga menjadi tanggung jawab ayah, sebagaimana firman Allah, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf ....”
(QS. Al-Baqarah: 233)

Dengan demikian, ibu tidak dipaksa memikul beban ekonomi sehingga dapat fokus menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama.

Lebih dari itu, Islam menetapkan mekanisme sosial yang menjamin perempuan tetap mendapatkan nafkah dalam berbagai kondisi, baik sebagai istri, janda, maupun tanpa wali. Dengan sistem ini, fungsi keibuan tidak terpinggirkan oleh tuntutan ekonomi.

Penutup

Kasus daycare di Yogyakarta adalah cermin retak dari realitas hari ini. Ia menunjukkan bahwa ketika pengasuhan sepenuhnya diserahkan kepada sistem, ada nilai yang perlahan hilang, yakni nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Tulisan ini bukan sekadar kritik terhadap daycare, tetapi juga sebuah renungan.

Apakah kita benar-benar membesarkan anak dengan cinta atau hanya menitipkannya pada sistem?

Sebab, pada akhirnya bukan daycare yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt., melainkan kita sebagai orang tua. [Rn/Wa]

Baca juga:

0 Comments: