Headlines
Loading...
Bagian 3: Tas Ransel dan Titipan Harapan

Bagian 3: Tas Ransel dan Titipan Harapan

Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Malam semakin larut saat pesawat yang membawa Arkan terus melaju membelah angkasa. Di dalam kabin yang redup, sebagian besar jemaah sudah terlelap. Namun, Arkan masih terjaga. Ia memangku ransel hitamnya, sementara jemarinya meraba permukaan kain ransel itu dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibandingkan saat ia masih berada di kamarnya di Magelang.

Arkan kembali mengeluarkan tumpukan kertas doa itu. Ia membacanya satu per satu di bawah lampu baca pesawat yang kecil. Kali ini, ia tidak lagi merasa terbebani. Justru, ia merasa sangat beruntung.

Ia menyadari bahwa doa-doa itu adalah bekal rohani yang sesungguhnya. Saat membaca doa dari sahabatnya yang sedang patah semangat atau doa dari Pak RT yang memohon keberkahan untuk kampung mereka, Arkan merasa jiwanya ikut terhubung dengan berbagai kebaikan tersebut.

Kemudian, ia membuka mushaf pada Surah At-Taubah ayat 60. Meski ayat itu membahas tentang distribusi zakat kepada delapan golongan, Arkan menemukan hikmah mendalam tentang bagaimana Allah Swt. mengatur pemberian dan rahmat-Nya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Pandangannya tertuju pada potongan akhir ayat tersebut:

...فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“... sebagai ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Arkan tersentak.

“Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,” bisiknya lirih.

Ia menyadari bahwa terpilihnya dirinya sebagai “kurir doa” di usia remaja adalah bagian dari kebijaksanaan Allah Swt. yang tidak terbatas. Allah mengetahui siapa yang sanggup membawa amanah itu. Allah juga mengetahui bahwa Arkan memiliki pundak yang cukup kuat dan hati yang cukup lembut untuk mendoakan orang-orang yang menitipkan harapan kepadanya.

Ia merasa bahwa tugas membawa ransel itu adalah sebuah ketetapan yang indah. Ia tidak perlu takut doanya tidak dikabulkan karena Allah Swt. Yang Maha Mengetahui pasti telah mendengar setiap harapan yang tertulis di kertas-kertas kecil itu bahkan sebelum Arkan membacakannya di depan Ka’bah.

Arkan memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam ransel dengan sangat rapi. Ia memeluk tas itu seperti memeluk harta karun paling berharga di dunia.

Rasa lelahnya perlahan menguap, berganti dengan semangat baru. Dalam hati, ia berjanji bahwa sesampainya di Tanah Suci nanti, ia akan menjadi lisan bagi mereka yang lidahnya kelu karena rindu dan menjadi tangan yang menengadah bagi mereka yang tubuhnya tak mampu sampai ke sana.

Pesawat berguncang kecil karena turbulensi, tetapi Arkan tidak merasa takut. Ia yakin dirinya sedang berada dalam penjagaan Allah Swt.

Dengan ransel berisi ribuan harapan itu sebagai sandaran, Arkan akhirnya memejamkan mata. Ia tertidur lelap dengan senyum tipis di wajahnya, siap menyambut fajar di tanah para nabi.

Tamat. [Ni/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: