Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Mobil yang membawa Arkan menuju bandara melaju membelah jalanan Magelang yang masih diselimuti kabut tipis. Di kursi belakang, Arkan tidak banyak bicara. Ia terus memeluk ransel hitamnya erat-erat di pangkuan. Ibunya sempat bertanya mengapa tas itu tidak ditaruh di bagasi saja agar lebih lega, tetapi Arkan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Bagi Arkan, ransel itu bukan sekadar barang bawaan, melainkan tumpukan amanah yang tidak boleh jauh dari jangkauannya.
Sesampainya di terminal keberangkatan, suasana riuh jemaah haji mulai terasa. Isak tangis haru dan pelukan perpisahan tampak di setiap sudut. Di tengah keramaian itu, Arkan melihat seorang bapak tua yang tampak kebingungan menyeret koper besar miliknya. Tanpa berpikir panjang, Arkan segera mendekat dan menawarkan bantuan.
“Sini, Pak, biar Arkan bantu tarik kopernya.”
Sambil berjalan menuju loket check-in, bapak itu bercerita bahwa ia berangkat sendirian setelah menabung selama tiga puluh tahun dari hasil bertani. Arkan tertegun. Ia melirik ranselnya sendiri, lalu teringat titipan doa dari Bu Ratna, penjual gorengan di kompleks rumahnya, yang juga memiliki mimpi serupa.
Di saat itulah sebuah ayat dari Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 43 terngiang di ingatannya:
ÙˆَÙ†ُودُوا Ø£َÙ†ْ تِÙ„ْÙƒُÙ…ُ الْجَÙ†َّØ©ُ Ø£ُورِØ«ْتُÙ…ُوهَا بِÙ…َا ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ تَعْÙ…َÙ„ُونَ
“Dan diserukan kepada mereka, ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.’”
Arkan merenung dalam-dalam. Ayat itu menjelaskan bahwa surga dan kemuliaan adalah warisan bagi mereka yang beramal saleh. Arkan merasa diingatkan bahwa keberangkatannya di usia muda bukan sekadar kebetulan atau keberuntungan materi. Ini adalah kesempatan untuk berbuat lebih banyak dibandingkan jemaah lainnya, yakni membantu sesama dan memastikan setiap amanah doa yang ia bawa benar-benar tersampaikan.
“Gue nggak boleh cuma jadi penumpang pesawat yang duduk manis,” batin Arkan.
“Gue adalah kurir harapan.”
Beban di pundaknya kini terasa berbeda. Bukan lagi beban yang melelahkan, melainkan beban yang memberinya energi. Saat melihat orang-orang yang berjuang dengan fisik yang sudah tidak lagi muda, Arkan merasa malu jika masih mengeluhkan antrean panjang atau udara bandara yang mulai panas.
Arkan mengambil secarik kertas kecil dari kantong depan ranselnya. Itu adalah doa dari adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, ditulis dengan spidol warna-warni.
“Kak Arkan, doain supaya aku jadi anak pinter dan bisa nyusul Kakak ke sana ya!”
Senyum Arkan mengembang. Ia menyadari bahwa setiap lembar kertas di dalam ranselnya adalah pengingat bahwa banyak orang menggantungkan harapan pada langkah kakinya. Ia bukan lagi sekadar remaja yang ingin berfoto di depan Ka’bah, melainkan seorang pemuda yang sedang memikul misi suci.
Saat petugas bandara menimbang tas kabinnya, angka yang tertera memang tidak seberapa. Namun, Arkan tahu bahwa di mata Allah Swt., isi ransel itu jauh lebih berharga daripada emas murni. Ia pun siap melangkah menuju pintu keberangkatan, membawa seluruh harapan yang ia dekap erat menuju rumah Tuhan.
Bersambung... [Ni/Ekd]
Baca juga:
0 Comments: