Headlines
Loading...
Bagian 2: ​Panggilan dari Masa Lalu

Bagian 2: ​Panggilan dari Masa Lalu

Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Udara panas yang kering langsung menyergap saat Arkan melangkah keluar dari pintu pesawat di Bandara Jeddah. Rasanya begitu berbeda dengan udara Magelang yang lembap dan sejuk. Namun, anehnya, Arkan tidak merasa terganggu seperti biasanya ketika kepanasan. Ada energi baru yang membuatnya tetap terjaga, meski kantuk masih menggelayut setelah perjalanan panjang.

Di dalam bus menuju Madinah, Arkan kembali membuka buku catatan kakeknya. Ia mencari bagian yang menceritakan pertemuan pertama dengan Kota Nabi.

"Madinah itu kota cinta," tulis kakeknya.
"Kamu akan merasakannya bukan dari bangunannya yang megah, tetapi dari ketenangan hatimu saat melangkahkan kaki di atas ubin Masjid Nabawi."

Arkan menatap keluar jendela, memandangi hamparan padang pasir yang gersang. Ia merenung, mengapa orang-orang rela datang sejauh ini. Saat membolak-balik halaman catatan itu, ia menemukan sebuah ayat dari Surah Al-Ma’idah ayat 16:

“Dengan Kitab itulah Allah menunjukkan kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, serta menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah: 16)

Membaca ayat itu, Arkan tersadar. Selama ini, ia sering merasa “gelap” dalam tumpukan tugas sekolah, konflik pertemanan, dan rasa malas yang tak kunjung reda. Perjalanan ini terasa seperti cara Allah menuntunnya keluar dari kegelapan menuju cahaya, cahaya ketenangan yang kini ia cari.

Sesampainya di Madinah, Arkan terpaku di depan gerbang Masjid Nabawi. Payung-payung raksasa yang mengembang tampak megah dan ikonik. Namun, yang lebih menggetarkan adalah suasananya. Ribuan orang dari berbagai penjuru dunia berjalan dengan tertib dan tenang, tanpa saling mendahului.

“Arkan, jangan bengong. Ayo masuk, kita sampaikan salam kepada Rasulullah,” ajak Ayah sambil menepuk pundaknya.

Begitu kakinya menyentuh karpet masjid, aroma wangi yang khas langsung menyambut. Wangi itu seolah membersihkan rasa lelah, bahkan perlahan meluruhkan ego remaja yang selama ini ia bawa.

Malam itu, Arkan mencoba mendekati Raudhah. Antrean sangat panjang. Arkan yang biasanya mudah menyerah saat mengantre di kantin, kali ini memilih bertahan. Ia melihat seorang kakek yang sudah bungkuk namun tetap sabar berdiri dalam antrean.

Ia teringat pesan kakeknya, “Di Raudhah, jangan minta dunia. Mintalah agar hatimu diperbaiki.”

Saat bersujud di Raudhah, air mata Arkan jatuh tanpa bisa ditahan. Ia teringat betapa sering menyia-nyiakan waktu dan membantah nasihat Ibu. Di tempat yang disebut sebagai taman surga itu, ia merasakan egonya luruh. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa berada di “jalan keselamatan” seperti yang ia baca sebelumnya.

Keluar dari masjid, tubuh Arkan terasa lebih ringan. Ia duduk di pelataran, menatap kubah hijau di kejauhan. Ia mengeluarkan ponselnya, bukan untuk bermain gim atau menggulir media sosial.

Ia memotret kubah itu, lalu mengirimkannya ke grup kelas dengan pesan singkat:

“Ternyata, kebahagiaan itu tidak selalu tentang seberapa keren foto kita, tetapi tentang seberapa tenang hati saat kita tidak perlu memamerkan apa pun.”

Malam itu, Arkan menyadari bahwa perjalanan ini bukan tentang sejauh mana ia melangkah, melainkan sedalam apa ia menyelami hatinya sendiri. [My/Ekd]


Baca juga:

0 Comments: