Oleh. Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Kamar Arkan biasanya berantakan dengan buku-buku latihan soal dan jersey basket yang tergantung asal di balik pintu. Tapi malam ini, suasana kamarnya terasa sangat berbeda. Ada sebuah koper besar dan satu tas ransel hitam yang tergeletak di tengah kasur. Arkan sedang mengepak barang, sebuah ritual yang biasanya ia lakukan dengan penuh semangat kalau mau pergi study tour atau kemping. Namun, kali ini jemarinya bergerak lebih lambat, lebih hati-hati.
Ia baru saja memasukkan kain ihram putih yang masih kaku ke dalam kompartemen utama ranselnya. "Cuma dua helai kain," gumamnya pelan. Tapi entah kenapa, saat ia mengangkat ransel itu untuk mencoba bebannya, pundaknya terasa seperti memikul beban berat. Padahal, pakaian yang ia bawa sangat minimalis.
Setelah ditelusuri, sumber "beban" itu ternyata ada di kantong depan ransel. Arkan membukanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sudah penuh sesak. Di dalamnya bukan uang, melainkan puluhan lembar kertas kecil—ada yang disobek dari buku tulis, ada yang ditulis di atas sticky notes warna-warni, bahkan ada yang ditulis di balik struk belanjaan. Itu adalah titipan doa.
Arkan duduk di tepi kasur, mengambil satu kertas secara acak. Itu dari Bayu, teman sebangkunya yang paling kocak, tapi sering bolos pelajaran Fisika. Tulisan Bayu cakar ayam: “Kan, titip doa ya, semoga emak gue sembuh dari sakit lambungnya, dan semoga gue nggak remed lagi di ujian sekolah nanti. Hehe. Amanah ya, Haji Arkan!”
Arkan tersenyum tipis, tapi hatinya berdesir. Lalu ia mengambil kertas lain dari Bu Ratna, tetangganya yang berjualan gorengan di depan kompleks. Kertasnya agak berminyak, tapi tulisannya sangat rapi: “Arkan, tolong sebut nama ibu di depan Ka’bah. Minta sama Allah supaya anak-anak ibu bisa lanjut kuliah.”
Tiba-tiba, rasa haru menyeruak di dada remaja itu. Ia merasa kecil, sangat kecil. Di usianya yang masih belasan tahun, ia diberi kesempatan emas yang bahkan orang dewasa yang sudah menabung puluhan tahun pun belum tentu mendapatkannya. Ia menyadari bahwa perjalanannya ke Tanah Suci bukan sekadar urusan healing spiritual atau sekadar jalan-jalan religi untuk diunggah di media sosial.
Ia membawa harapan. Ia membawa rintihan hati orang-orang yang hanya bisa memandang Ka’bah melalui layar televisi sambil menyeka air mata. Arkan teringat kutipan ayat dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 162 (Juz 8) yang sempat ia baca saat mengaji tadi sore. Ayat itu seolah bergema di kepalanya:
Ù‚ُÙ„ْ Ø¥ِÙ†َّ صَÙ„َاتِÙŠ ÙˆَÙ†ُسُÙƒِÙŠ ÙˆَÙ…َØْÙŠَايَ ÙˆَÙ…َÙ…َاتِÙŠ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.'"
Ayat itu menampar egonya. Selama ini, Arkan mungkin merasa hebat karena bisa berangkat haji di usia muda. Tapi ayat di Juz 8 itu mengingatkannya bahwa seluruh hidupnya, termasuk kesempatan ibadah haji ini (yang disebut sebagai nusuki dalam ayat tersebut), adalah milik Allah. Ia hanyalah perantara. Keberangkatannya adalah bentuk "tugas" dari Sang Pencipta untuk membawa pesan-pesan dan doa-doa dari hamba-hamba-Nya yang lain.
"Gila, ya," batin Arkan sambil memasukkan kembali amplop doa itu ke tempat yang paling aman di ranselnya. "Gue berangkat bukan sebagai Arkan yang keren, tapi sebagai kurir doa."
Ada rasa takut yang menyelinap. Takut jika ia tidak bisa menjaga amanah doa-doa itu. Takut jika nanti di sana ia justru asyik berfoto daripada khusyuk membacakan titipan-titipan tulus ini. Namun, rasa takut itu ia coba lawan dengan doa. Ia mengambil ponselnya, mematikan koneksi internet sejenak agar tidak terdistraksi oleh grup WhatsApp kelas yang sedang ramai membahas game baru.
Arkan berdiri, lalu melangkah ke arah jendela. Ia menatap langit malam Magelang yang tenang. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ransel ini mungkin berat, tapi ia akan membawanya dengan penuh rasa syukur. Ia tidak akan membiarkan satu kertas pun terlewat tanpa dibacakan di tempat-tempat mustajab nanti.
Ibadah ini bukan tentang pamer status di sekolah. Ini tentang pembuktian cinta, seperti yang sering ia tulis dalam jurnal pribadinya. Baginya, haji muda adalah cara ia mencintai Allah di saat fisiknya masih kuat, di saat kakinya masih sanggup berlari dari Safa ke Marwa, dan di saat ingatannya masih tajam untuk menyebut nama-nama sahabat dan tetangganya satu per satu di depan Baitullah.
Dengan helaan napas panjang, Arkan menutup ritsleting ranselnya. Bunyinya terasa seperti penanda bahwa babak baru dalam hidupnya resmi dimulai. Esok pagi, ia akan meninggalkan rumah, meninggalkan kenyamanan kamar remajanya, untuk menuju sebuah tempat di mana ia akan menemukan jati diri yang sesungguhnya.
Ransel hitam itu kini tersandar di pojok kamar. Di dalamnya, ada pakaian ihram yang sederhana, namun ada beban harapan yang luar biasa mulia. Arkan merebahkan diri, menatap langit-langit kamar, dan berbisik lirih, "Bismillah, ya Allah. Mudahkan kurir doa ini sampai ke rumah-Mu."
Bersambung... [Ni/Ekd]
Baca juga:
0 Comments: