Headlines
Loading...
Bagian 1: Panggilan dari Masa Lalu

Bagian 1: Panggilan dari Masa Lalu

Oleh: Mom NaKiTa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Fajar di pinggiran Magelang selalu punya cara untuk membuat Arkan merasa kecil. Namun, pagi ini suasana terasa jauh lebih berat dari biasanya. Di tengah ruang tamu yang masih remang, sebuah koper besar berwarna biru tua tergeletak kaku. Di atasnya tersampir dua helai kain putih tanpa jahitan (kain ihram).

Bagi Arkan, remaja enam belas tahun yang dunianya biasanya hanya berputar di sekitar lapangan basket dan layar ponsel, pemandangan itu terasa begitu asing. Ada sesak yang tiba-tiba muncul, mewakili ketidaksiapan yang membuncah di dalam dadanya. Ia merasa perjalanan ini datang terlalu cepat untuk usianya.

“Arkan, sudah dicek lagi paspor dan dokumen di dalam tas kecilnya?”

Suara Ibu terdengar dari arah dapur, tenang namun sarat keharuan yang berusaha disembunyikan.

Arkan hanya bergumam sebagai jawaban. Ia duduk di sofa, menatap ujung sepatunya dengan pandangan kosong. Jujur saja, badai tengah berkecamuk di dalam hatinya. Saat teman-teman sekolahnya sibuk merencanakan liburan kenaikan kelas ke Bali atau sekadar mabar di kafe kekinian, Arkan justru harus bersiap menuju tanah gersang ribuan kilometer jauhnya.

Bagi Arkan, haji adalah sesuatu yang “nanti saja kalau sudah tua”. Haji identik dengan orang-orang beruban, bukan untuk anak muda yang masih ingin mengejar banyak hal di dunia. Ia merasa dunianya yang seru akan terhenti oleh ritual yang ia anggap formal dan kaku.

“Bu, apa tidak bisa tahun depan saja?” tanyanya pelan ketika Ibu mendekat.

“Arkan merasa belum siap. Arkan masih sering bolos salat Subuh, masih mudah marah pada adik karena hal sepele. Apa pantas orang seperti Arkan berangkat ke rumah Allah?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, jujur, polos, sekaligus menyimpan rasa minder yang selama ini ia pendam.

Ibu tersenyum tipis, lalu duduk di samping koper itu. Alih-alih memberi ceramah panjang, ia justru menyerahkan sebuah buku kecil bersampul kulit yang sudah usang.

“Ini milik kakekmu, Arkan. Beliau menulisnya saat berangkat haji pada tahun 1970-an. Kakekmu juga berangkat di usia muda, dengan tantangan yang jauh lebih berat daripada sekarang. Mungkin kamu akan menemukan jawaban di sana.”

Arkan menerima buku itu dengan ragu. Malam harinya, di bawah lampu kamar yang temaram, ia mulai membuka lembar demi lembar catatan tersebut. Tulisan tangan yang miring, ejaan lama, serta tinta yang mulai pudar justru membuat setiap katanya terasa hidup.

"Mekkah, 1974," tulis kakeknya di halaman pertama.
"Hari ini aku melihat Kakbah untuk pertama kalinya. Rasanya seperti debu yang akhirnya menemukan rumahnya. Di sini, tidak ada yang bertanya apa pekerjaanmu atau berapa hartamu. Kita semua sama. Fakir dan kecil di hadapan-Nya."

Arkan tertegun. Ia teringat betapa seringnya merasa minder di sekolah hanya karena tidak memiliki sepatu basket terbaru. Dalam catatan ini, kakeknya berbicara tentang kesetaraan yang mutlak, sesuatu yang selama ini hanya ia anggap teori, kini terasa nyata dan personal.

Ia terus membaca hingga menemukan sebuah ayat yang ditulis dengan tinta merah yang mulai kecokelatan, pengingat dari Surah An-Nisa ayat 100:

وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu kematian menjemputnya (sebelum sampai), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Membaca ayat itu, Arkan seperti disiram air es di tengah siang bolong. Ia memahami bahwa perjalanan ini bukan sekadar “wisata religi” karena dorongan orang tua. Ini adalah hijrah, perjalanan batin menuju Allah.

Ia tidak harus menjadi sempurna untuk berangkat. Justru, ia berangkat untuk belajar menjadi lebih baik.

Hijrah bagi Arkan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah sikap, dari egois menjadi lebih pasrah. “Tempat yang luas” yang dijanjikan Allah bukan hanya ruang fisik, tetapi juga kelapangan hati untuk menerima diri dan memperbaiki kesalahan.

Keesokan harinya, suasana di asrama haji begitu riuh. Arkan berdiri di antara ratusan orang berseragam batik serupa. Suara talbiyah berkumandang, bersahut-sahutan dengan tangis keluarga yang melepas dari balik pagar.

“Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…”

Awalnya, Arkan hanya mengikuti secara mekanis. Namun, ketika bus mulai bergerak meninggalkan asrama, tenggorokannya tercekat. Ia melihat bayangan dirinya di kaca jendela yang bergetar.

Tangannya menyentuh kain ihram di dalam tas, kain sederhana tanpa kantong untuk menyimpan ponsel mahal, tanpa kerah untuk memamerkan merek terkenal, dan tanpa kancing untuk menunjukkan simbol status sosial. Hanya dua lembar kain putih yang melambangkan kesucian dan kesetaraan.

Ia teringat kembali kata-kata kakeknya: seperti debu yang menemukan rumahnya.

Kini, Arkan mengerti. Ia bukan sedang meninggalkan dunia yang seru, tetapi sedang pulang. Pulang ke tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa topeng.

“Oke, Arkan. This is it,” bisiknya mantap.

Ia tak lagi memikirkan liburan ke Bali atau gengsi di hadapan teman-teman. Ini tentang menjawab panggilan agung. Kesempatan untuk mengulang, memperbaiki, dan memulai kembali.

Dan jika Allah telah memanggil, Arkan yakin Allah pula yang akan membimbing langkahnya.

Kali ini, langkah kakinya saat menaiki tangga pesawat terasa ringan dan pasti, jauh berbeda dengan keraguan di ruang tamu kemarin.

Di dalam tasnya, buku usang milik kakeknya tersimpan rapi menjadi kompas bagi hati yang baru memulai perjalanan spiritual terbesarnya.

Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan untuk pertama kalinya, Arkan benar-benar siap menjemput cahaya di setiap rukun yang akan ia jalani. [My/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: