Headlines
Loading...

Oleh: Naila Dhofarina Noor
(Kontributor SSCQ Media)


Judul Buku: Andai Buku Seporsi Steak Wagyu
Penulis: Abdurrahman Arraushany
Tebal: 101 halaman
Cetakan: April 2026
Penerbit: CV Veterinary Indie Publisher
ISBN: 978-634-96354-7-9

Ada buku ringan yang cocok dibaca para pecinta buku dan siapa saja yang menginginkan perubahan menjadi lebih baik, baik untuk dirinya maupun negerinya. Buku ini terdiri atas 101 halaman berukuran A5 dengan gaya bahasa yang menyerupai esai sehingga terasa ringan dan mengalir saat dibaca.

Sedikit cerita, buku ini merupakan doorprize dari kajian keluarga di Pamekasan pada April 2026. Alhamdulillah, ini adalah buku “anyar” yang membuat saya berbinar seperti ilustrasi pada sampul bukunya.

Pertama kali membaca judulnya, Andai Buku Seporsi Steak Wagyu, kening saya sempat berkerut. Saya berpikir keras memikirkan apa itu wagyu. Jemari pun langsung meluncur ke daftar isi untuk menemukan kata “wagyu” yang ternyata dibahas di halaman 52. Barulah saya mengetahui bahwa wagyu adalah daging premium kelas dunia yang lembut, juicy, dan menjadi favorit para penikmat kuliner.

Berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya minat baca di Indonesia, penulis mengajak pembaca menganalogikan buku dengan steak wagyu. Harapannya, setiap kali melihat buku, kita merasa ingin “melahap” dan menikmatinya sebagaimana menikmati makanan lezat dan bergizi.

Menariknya, setiap subbab dalam buku ini diakhiri dengan diksi yang menggugah kesadaran tentang pentingnya membaca dan membangun gairah literasi.

Penulis mengawali pembahasan dengan memaparkan berbagai fakta pada Bab 1. Dengan bahasa yang mudah dipahami, penulis mengupas krisis membaca di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara maju.

Kemudian pada Bab 2, pembahasan ditujukan khusus kepada kaum muslimin. Pembaca diingatkan kembali bahwa membaca merupakan perintah pertama dari langit, yakni iqra’. Selanjutnya, pada Bab 3, penulis menceritakan jejak para ulama dan ilmuwan muslim yang menghabiskan hidupnya untuk membaca, menulis, dan mengajar.

Pada Bab 4, penulis mulai menghidangkan kalimat-kalimat tentang membaca yang dianalogikan senikmat wagyu. Pembahasan berlanjut dari Bab 5 hingga Bab 19 yang berisi 15 cara menyalakan gairah membaca dengan bahasa ringan dan mudah dipraktikkan.

Lima belas cara tersebut antara lain menentukan strong why dalam membaca, menjadikan membaca sebagai ibadah harian, membangun rutinitas membaca 10–15 menit per hari, menciptakan lingkungan yang mendukung, mematikan gangguan, memulai dari buku ringan, membaca di mana saja, menikmati proses membaca tanpa merasa terbebani, menulis dan menceritakan kembali isi bacaan, meniatkan membaca untuk mengikuti jejak ulama dan ilmuwan, menggabungkan membaca dengan tujuan besar, menggunakan teknik membaca cepat dan efektif, merayakan setiap buku yang selesai dibaca, membangun perpustakaan pribadi, menjadikan membaca sebagai warisan kebiasaan keluarga, hingga bergerak dari membaca menuju menulis.

Beberapa di antaranya insyaallah sudah kita lakukan. Tinggal bagaimana menjaga keistikamahan dan mencoba cara-cara lainnya. Misalnya pada Bab 8, penulis memotivasi pembaca untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dengan tiga langkah: menyiapkan rak buku dan ruang baca yang nyaman, bergabung dalam komunitas pembaca, serta membangun suasana yang akrab dengan buku. Nah, ini “pas banget”, bukan? Sahabat Surga Cinta Qur’an adalah contoh komunitas pembaca yang asyik dan terbukti membantu menjaga konsistensi membaca. Alhamdulillah, barakallahu fiikum.

Pada Bab 20, penulis menutup buku dengan ringkasan, doa, dan seruan terakhir: “Jangan Pernah Berhenti Membaca, karena Surga Sedang Merindukanmu.” Masyaallah. Semoga buku ketujuh karya penulis ini dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan minat baca masyarakat sehingga kemajuan peradaban dapat terwujud. Aamiin.

Buku ini memiliki kelebihan dan kekurangan dari beberapa sisi. Kelebihannya, sesuai dengan keterangan pada sampul, bonus 15 cara menyalakan gairah membaca benar-benar disajikan secara komunikatif dan mudah dipahami. Terdapat pula daftar yang membantu pembaca menuliskan buku-buku yang ingin dibaca sehingga pembaca terdorong untuk merealisasikan target bacaannya.

Ukuran buku yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil membuatnya nyaman digenggam. Bobotnya yang ringan juga mendukung untuk dibawa bepergian dan dibaca saat senggang.

Fakta-fakta dan contoh teladan yang dipaparkan dalam buku ini sangat relevan dan inspiratif sehingga mampu menggugah kesadaran pembaca. Menariknya lagi, pada salah satu subbab, penulis juga mengenalkan salah satu bukunya tentang ilmu beternak yang membuat pembaca semakin penasaran.

Adapun kekurangannya, contoh teladan yang diberikan lebih banyak menampilkan figur laki-laki. Akan lebih baik jika ditambahkan figur perempuan karena pembaca buku ini tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan.

Selain itu, sistematika penomoran bab dan subbab serta tata letak yang menyerupai esai terkesan agak kaku bagi pembaca yang memperhatikan estetika tampilan. Judul Andai Buku Seporsi Steak Wagyu juga mungkin terasa sedikit membingungkan bagi pembaca pemula. Barangkali akan lebih mudah dipahami jika ditambahkan kata “itu” atau “adalah” setelah kata “Buku”, atau dengan menempatkan kata “Seporsi” sejajar dengan “Steak Wagyu”.

Gambar pada bab awal juga tampak pecah sehingga kurang nyaman dilihat. Selain itu, penggunaan huruf “S” pada kata “saya” di tengah kalimat belum konsisten; sebagian menggunakan huruf kapital, sebagian lainnya huruf kecil.

Demikian resensi buku Andai Buku Seporsi Steak Wagyu. Semoga buku ini dapat menjadi referensi bacaan yang “berdaging” dan membantu kita menjaga semangat membaca demi meraih kemuliaan dunia dan akhirat.

Selamat membaca. [US/En]

Baca juga:

0 Comments: