Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)
SSCQmedia.com—Masyarakat hari ini banyak yang merasa stres, gelisah, dan tertekan. Mereka mengira penyebabnya adalah keadaan hidup yang semakin sulit. Padahal, masalah utamanya bukan di situ. Yang benar-benar membuat manusia tertekan adalah tujuan hidup yang salah. Ketika seseorang menetapkan tujuan yang keliru, seluruh langkahnya terasa berat, penuh beban, mudah berujung kecewa, bahkan salah arah. Ini bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi telah menjadi masalah besar yang seharusnya diselesaikan oleh negara.
Contoh paling jelas terlihat dari cara pandang terhadap kerja. Banyak orang bekerja dengan satu tujuan, yaitu mendapatkan uang sebanyak mungkin. Ini berbahaya. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, yang muncul adalah kemarahan, kekecewaan, bahkan keputusasaan. Hidup terasa gagal hanya karena target materi tidak tercapai.
Berbeda dengan pandangan Islam, bekerja bukan untuk menumpuk harta, melainkan sebagai bentuk syukur kepada Allah. Allah berfirman, “Bekerjalah wahai Daud agar engkau bersyukur, dan sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur.” Ini menunjukkan bahwa orientasi kerja harus diluruskan sejak awal, yaitu sebagai wujud syukur.
Namun, realitas di masyarakat justru sebaliknya. Sistem yang berjalan hari ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir bahwa uang adalah segalanya. Kehormatan seseorang pun dinilai dari materi yang dimiliki.
Negara seharusnya hadir, tidak sekadar diam, tetapi aktif mengarahkan cara pandang yang keliru ini. Sangat disayangkan, negara justru ikut memfasilitasinya. Utang berbasis riba dengan berbagai istilah dijadikan solusi. Kebijakan ekonomi, layanan keuangan, hingga promosi gaya hidup mendorong masyarakat untuk terus mengejar materi tanpa batas. Akibatnya, standar hidup semakin tinggi, tetapi ketenangan hidup justru semakin jauh.
Dampaknya sangat nyata. Ketakutan terhadap rezeki semakin besar. Banyak orang cemas tidak memiliki cukup uang, takut miskin, dan khawatir terhadap masa depan. Padahal, Rasulullah telah mengingatkan bahwa rezeki dan ajal adalah dua perkara yang telah ditetapkan. Selama seseorang masih hidup, rezekinya telah dijamin, tidak akan tertukar dan tidak akan tertinggal.
Sebaliknya, yang tidak pasti adalah iman. Seseorang bisa saja hari ini beriman, tetapi tergelincir di kemudian hari jika tidak menjaga tujuan hidupnya. Ini adalah fakta penting yang sering diabaikan.
Peran negara sangat menentukan. Negara tidak boleh hanya fokus pada pajak, pembangunan infrastruktur, atau pertumbuhan ekonomi yang sering kali hanya tampak di atas kertas.
Mengarahkan tujuan hidup rakyat adalah kewajiban negara. Jika negara membiarkan masyarakat hidup dengan tujuan yang salah, maka sesungguhnya negara sedang membiarkan kerusakan meluas. Stres, kecemasan, dan hilangnya makna hidup adalah bukti nyata dari kegagalan tersebut.
Solusi atas persoalan ini tidak cukup dengan nasihat individu. Diperlukan perubahan sistem secara mendasar. Negara wajib menerapkan syariah Islam secara menyeluruh. Syariah tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur cara manusia memandang hidup serta memudahkan pemenuhan kebutuhan.
Dalam sistem ini, tujuan hidup ditetapkan dengan jelas, yaitu meraih rida Allah. Semua aktivitas, termasuk bekerja, diukur dengan standar halal dan haram, bukan sekadar untung atau rugi.
Khilafah memastikan aturan Islam diterapkan secara utuh, termasuk dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Kurikulum pendidikan diarahkan untuk membentuk pola pikir yang benar sejak dini. Media menyebarkan nilai yang membangun, bukan merusak. Sistem ekonomi dijalankan tanpa riba dan tanpa penindasan.
Seluruh aspek kehidupan diarahkan pada satu tujuan, yaitu membentuk manusia yang taat dan sadar akan arah hidupnya. Jika ini diterapkan, cara pandang masyarakat akan berubah secara nyata. Orang tidak lagi bekerja semata-mata demi uang, tetapi untuk menjalankan perintah Allah. Mereka tidak mudah stres ketika hasil tidak sesuai harapan, karena yang dikejar adalah rida Allah, bukan sekadar hasil dunia. Fokus hidup tidak hanya pada hasil akhir, tetapi pada setiap proses yang dijalani.
Dalam kondisi seperti ini, setiap langkah masyarakat akan dimudahkan oleh negara. Kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, dan keamanan difasilitasi. Setiap tindakan diukur dengan pertanyaan sederhana, apakah ini diridai Allah atau tidak.
Sebaliknya, tanpa perubahan sistem, persoalan ini tidak akan pernah selesai. Selama negara tetap menggunakan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, tujuan hidup akan terus kabur.
Masyarakat akan terus dikejar target dunia yang tidak pernah berakhir, karena mereka dituntut menyelesaikan masalahnya sendiri. Stres akan tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sementara ketenangan hanya menjadi harapan kosong. Stres bukan berasal dari takdir Allah, melainkan dari kesalahan manusia dalam menentukan tujuan hidup. Kesalahan ini tidak boleh terus dibiarkan.
Negara wajib meluruskan tujuan hidup masyarakat dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah. Dengan demikian, manusia memiliki arah yang jelas, hidup dengan tenang, dan berjalan menuju rida Allah, sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.
Wallahualam bissawab. [US/WA]
Baca juga:
0 Comments: