Sekularisasi Generasi di Balik Proyek Role Model Pendidikan
Oleh: Septa Anitawati, S.I.P.
(Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah)
SSCQmedia.com—Beberapa waktu terakhir, muncul wacana pembangunan role model pendidikan. menyampaikan pesan kepada para pendidik agar mampu menciptakan generasi yang berkarakter baik (news.detik.com, 7 April 2026).
Analisis Problematis
Terdapat beberapa hal penting yang patut dikritisi dari wacana tersebut.
Pertama, konsep role model yang ditawarkan dinilai berpotensi menjadi bagian dari proyek penguatan sekularisasi generasi. Sekularisme merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari urusan negara. Ketika agama tidak lagi dijadikan dasar dalam mengatur kehidupan, muncul pertanyaan mendasar: dengan apa kehidupan ini akan diatur?
Pemahaman ini kerap menjadi pintu masuk bagi pluralisme dan moderasi beragama yang diaruskan secara masif. Dampaknya, generasi berpotensi semakin jauh dari pemahaman agamanya sendiri. Tidak perlu mengganti identitas agama secara formal, tetapi cukup dengan menanamkan keraguan hingga akhirnya meninggalkan ajaran agama. Hal ini selaras dengan peringatan Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 120:
ÙˆَÙ„َÙ† تَرْضَÙ‰ٰ عَنكَ ٱلْÙŠَÙ‡ُودُ ÙˆَÙ„َا ٱلنَّصَٰرَÙ‰ٰ ØَتَّÙ‰ٰ تَتَّبِعَ Ù…ِÙ„َّتَÙ‡ُÙ…ْ ۗ
Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu hingga kamu mengikuti millah (jalan hidup) mereka.
Kedua, moderasi beragama kerap dinarasikan sebagai penyetaraan semua agama. Hal ini dinilai berpotensi menyesatkan serta menjadi ancaman bagi akidah generasi muslim, sekaligus menjauhkan mereka dari penerapan syariat Islam.
Ketiga, program ini dinilai dapat menjauhkan generasi dari identitasnya sebagai muslim. Peran agama dalam pembentukan karakter berpotensi tergeser, sehingga generasi tidak lagi memiliki kepribadian Islam yang kokoh. Padahal, mereka adalah calon pemimpin masa depan yang seharusnya melanjutkan estafet kepemimpinan umat.
Penguatan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila melalui profil pelajar Pancasila, yang menekankan gotong royong, dinilai belum memiliki kejelasan dalam implementasi—baik dari sisi konsep maupun praktik. Pada akhirnya, arah pembentukan karakter dikhawatirkan bergantung pada kepentingan pembuat kebijakan.
Keempat, proyek role model ini juga dinilai berpotensi melahirkan generasi yang apolitis—tidak peduli terhadap persoalan umat dan kurang peka terhadap kondisi masyarakat. Hal ini dapat semakin menjauhkan mereka dari pemahaman Islam secara kafah.
Solusi Konstruktif dan Komprehensif
Berdasarkan analisis di atas, terdapat beberapa solusi yang ditawarkan.
Pertama, Islam merupakan sistem yang mengatur kehidupan secara menyeluruh. Dalam dimensi hablum minallah, Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui rukun iman dan rukun Islam. Dalam dimensi hablum minannafsi, Islam mengatur aspek pribadi seperti konsumsi halal dan thayyib, berpakaian syar’i, serta berakhlak mulia. Adapun dalam dimensi hablum minannas, Islam mengatur interaksi sosial, termasuk aspek politik dalam dan luar negeri.
Kedua, pendidikan dalam Islam tidak sekadar menanamkan nilai moral, tetapi bertujuan membentuk kepribadian Islam. Kepribadian ini berlandaskan keimanan yang mendorong individu untuk menundukkan hawa nafsu dan taat kepada Allah Swt. serta Rasulullah saw., baik dalam pola pikir maupun pola sikap.
Ketiga, kurikulum pendidikan semestinya dibangun di atas asas akidah Islam, bukan sekularisme. Akidah Islam menegaskan bahwa hanya Allah Swt. yang berhak disembah, ditaati, dan dijadikan satu-satunya sumber pengaturan kehidupan. Dengan demikian, seluruh aspek kehidupan manusia tunduk pada aturan-Nya.
Keempat, sistem pendidikan Islam terbukti mampu melahirkan generasi unggul melalui pembinaan kepribadian Islam. Dalam sejarah, peradaban Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia, meliputi wilayah yang luas, melahirkan berbagai penemuan di banyak bidang, serta menjadi kekuatan yang disegani.
Kondisi ini semestinya menjadi refleksi bersama. Sudah saatnya kembali menjadikan Islam sebagai landasan dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan berperadaban.
Wallahu a’lam bishawab. [Rn/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: