Oleh: Dhevi Firdausi, S.T.
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Ini merupakan sketsa gambar rumah pada masa Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Dindingnya tertutup masif dengan menggunakan bahan batu bata, bukan kaca. Batu bata bersifat solid dan mampu melindungi rumah dari panasnya matahari (Sumber: https://islamiccenter.or.id).
Privasi total juga diberikan oleh dinding batu bata ini karena aktivitas penghuni rumah tidak terlihat dari luar. Selain itu, dinding batu bata memiliki kelebihan lain, yaitu sebagai isolasi suara. Bahan ini bersifat soundproof, sehingga lebih kedap suara dibandingkan material lainnya.
Bukaan berupa jendela dirancang pada bagian atas dinding. Jendela kaca ditempatkan di bagian atas agar privasi pemilik rumah tetap terjaga. Adapun bukaan berupa beberapa pintu ditempatkan sedemikian rupa agar mampu mengalirkan udara bersih ke dalam rumah.
Rumah Islami sangat mengutamakan kesehatan penghuni. Oleh karena itu, rumah harus memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan alami yang cukup. Selain itu, rumah seperti ini juga hemat energi karena tidak perlu menyalakan AC atau lampu pada siang hari. Kesehatan penghuni menjadi hal penting agar mereka dapat melaksanakan ibadah dengan lancar.
Tipe rumah Islami sangat berbeda dengan model rumah khas Barat yang memperbanyak penggunaan dinding kaca. Desain ini menunjukkan pentingnya menjaga aurat bagi penghuni rumah agar tidak mudah terlihat oleh orang yang bukan mahram. Hal ini sejalan dengan kewajiban dalam Islam bagi perempuan untuk menutup aurat.
Islam merupakan agama yang sempurna. Tidak hanya mengatur masalah ibadah seperti salat, tetapi juga mengatur tentang pakaian wanita. Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian wanita wajib menutup aurat sebagaimana diperintahkan Allah Swt. dalam Surah An-Nur ayat 31:
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ ۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
[MA/UF]
Baca juga:
0 Comments: