Headlines
Loading...
Derita Tahanan Palestina dan Solusi Ideologis

Derita Tahanan Palestina dan Solusi Ideologis

Oleh: Arista
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Setiap 17 April, dunia memperingati Palestinian Prisoners’ Day atau Hari Tahanan Palestina. Momen ini ditetapkan sejak 1974 untuk mengangkat penderitaan warga Palestina yang dipenjara oleh Israel. Peringatan ini menjadi bentuk solidaritas bagi ribuan tahanan, termasuk perempuan dan anak-anak, sekaligus desakan agar praktik penyiksaan serta perlakuan tidak manusiawi dihentikan.

Peringatan tahun ini dinilai paling suram dalam beberapa dekade terakhir. Pasalnya, otoritas Zionis telah mengesahkan undang-undang yang membuka jalan bagi hukuman mati terhadap tahanan Palestina. Data menunjukkan bahwa sejak 1967, sekitar 1 juta orang atau 20% penduduk Palestina pernah mengalami penahanan. Saat ini, sekitar 9.600 warga Palestina masih ditahan. Kondisi mereka di dalam penjara sangat memprihatinkan: mengalami pemukulan, dibiarkan kelaparan, mengalami kekerasan seksual, hingga penyiksaan yang berujung kematian.

Akar Masalah: Ketiadaan Pelindung dan Standar Ganda Internasional

Penderitaan rakyat Palestina dinilai terjadi karena umat Islam tidak memiliki perisai pelindung berupa institusi Khilafah Islamiyah. Di sisi lain, lembaga hukum internasional seperti PBB dinilai tidak mampu menuntaskan konflik Israel–Palestina. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan hak veto oleh Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi kepentingan Israel. Narasi hak asasi manusia yang digaungkan negara-negara Barat pun dinilai tidak konsisten dan cenderung berstandar ganda.

Pendudukan Israel atas Palestina dipandang sebagai bagian dari proyek imperialisme global Barat untuk menjaga dominasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Posisi Israel yang terkesan “kebal hukum” di panggung internasional dinilai terjadi karena dukungan diplomatik serta bantuan militer yang besar dari negara-negara Barat.

Membangun Kesadaran Berbasis Akidah

Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk melihat persoalan Palestina tidak sekadar sebagai isu kemanusiaan. Kepedulian tidak boleh berhenti pada simpati sesaat, tetapi harus berangkat dari ikatan akidah. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw.:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut tidak bisa tidur dan merasa demam.”
(HR. Muslim no. 2586)

Jihad dan Institusi Pemersatu sebagai Solusi

Upaya membebaskan Palestina dipandang memerlukan langkah yang lebih kuat dan terorganisasi. Jihad disebut sebagai jalan perjuangan, namun pelaksanaannya dinilai efektif jika didukung oleh institusi politik yang memiliki kekuatan sebanding dengan negara-negara besar. Institusi tersebut dipandang sebagai Khilafah Islamiyah.

Semoga Allah Swt. memudahkan jalan dan meridai setiap ikhtiar dalam memperjuangkan keadilan. [My/UF]

Baca juga:

0 Comments: