Headlines
Loading...
Negara Gagal Melindungi Anak dalam Maraknya Kasus Bunuh Diri

Negara Gagal Melindungi Anak dalam Maraknya Kasus Bunuh Diri

Oleh. Dewi Khoirul

Seorang bocah di Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Korban ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya. Aksi nekad bocah SD itu diduga dipicu karena dilarang bermain HP.
(Detikjateng.com, Rabu 22-11-2023).

Sungguh miris dan menyayat hati dengan fakta yang kita hadapi, anak-anak yang seharusnya mereka masih menikmati hari-hari dengan gembira serta menyongsong masa depan penuh cita-cita, tapi harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis pula.

Kasus ini harusnya menjadi perhatian penting karena menimpa pada anak-anak yang masih berusia belia. Apalagi bunuh diri saat ini sudah menjadi fenomena yang sering kita jumpai dimasyarakat.

Dikutip dari tayangan video Muslimah Media Center dicanal you tube tanggal 1 Desember, pukul 06.00 WIB, disampaikan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam fenomena bunuh diri pada anak-anak ini diantaranya adalah:
1. Penyebab bunuh diri
2. Sumber anak mengetahui bunuh diri
3. Kondisi mental anak 

Selanjutnya disampaikan pula untuk membentuk karakter anak yang kuat dan tangguh tentu menjadi tanggung jawab banyak pihak, diantaranya ada keluarga, masyarakat dan negara. Hanya saja, dalam sistem sekarang yakni sistem sekuler-kapitalis telah meminimalisir peran dari ke tiga pihak tersebut. 

Saat ini banyak keluarga yang mengawali rumah tangga tidak disertai kesiapan menjadi orang tua, alhasil tidak ada gambaran jelas karakter anak yang akan dibentuk dan bagaimana mewujudkannya. Tren orang tua bekerja termasuk ibu sudah menggejala ditengah masyarakat. Pasalnya keluarga dipandang ideal ketika bisa memenuhi gaya hidup konsumtif ala kapitalis, alhasil pendidikan anak yang harusnya membentuk kepribadian mulia pada anak tidak sejalan sebagaimana mestinya.

Disisi lain masyarakat yang terbentuk hari ini adalah masyarakat sekuler-kapitalis. Masyarakat sekuler-kapitalis identik dengan sifat individualnya, mereka cenderung membiarkan kebiasaan buruk yang banyak dilakukan oleh anak-anak saat ini, seperti bermain hp hingga mengakses konten-konten tidak mengedukasi dan merusak. Anak pun tumbuh menjadi individu yang liberal dan materialis.

Selanjutnya peran terbesar yang mempengaruhi bunuh diri pada anak adalah negara. Sebab negara adalah pihak yang mengatur jalannya sistem pendidikan negeri ini, serta mengatur media yang diakses masyarakatnya. Kurikulum pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sungguh telah menjauhkan generasi dari pemahaman terhadap aturan Allah SWT, hasilnya generasi terdidik dengan cara pandang kapitalisme-sekulerisme.

Adapun media sangat berperan dalam mempengaruhi dan mendorong anak melakukan tindakan bunuh diri. Dalam beberapa kasus ada anak-anak melihat cara-cara bunuh diri diinternet sebelum menerapkannya dikehidupan nyata.

Hal ini menunjukkan gagalnya negara dalam melakukan kontrol dan pengawasan media dalam menyebarkan informasi dan tuntunan.
Tidak ada tindakan tegas dari negara dalam melarang tayangan liberal, hedon, hingga mempertontonkan kemaksiatan. Tentu semua ini sangat berperan dalam pembentukan kesehatan mental anak.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan pembentukan generasi dalam Islam yakni khil4f4h. Khil4f4h akan menjadikan aturan Islam satu-satunya aturan dalam mengatur individu, masyarakat maupun negara. Ketiga pilar ini wajib memperhatikan tumbuh kembang anak dan menjaga mental anak, tidak boleh ada satupun pilar yang mengabaikan pembentukan generasi berkualitas, sebab generasi adalah estafet peradaban.

Keluarga akan menjalankan perannya dengan baik yaitu mengasuh, menyayangi dan mendidik anak sesuai dengan akidah Islam, sehingga anak tidak akan kurang kasih sayang dan tumbuh menjadi pribadi yang takwa. Masyarakat juga akan menjalankan fungsi kontrol sosial yaitu dengan aktifitas amar ma'ruf nahi mungkar sehingga suasana dilingkungan masyarakat akan diwarnai nasihat yang baik.

Selain itu khil4f4h akan menerapkan sistem pendidikan Islam berasaskan akidah Islam. Tujuan dan kurikulum pendidikan dibangun diatas asas tersebut, sehingga anak akan dicetak agar berkepribadian Islam menguasai tsaqofah Islam dan mumpuni dalam iptek.

Negara juga akan mengelola media sosial sehingga informasi yang beredar dimasyarakat adalah perkara dakwah dan kebaikan. Informasi tentang bunuh diri dan segala sesuatu yang melanggar syariat tidak akan dibiarkan tayang, dengan begitu mindset generasi tersuasanakan dalam kondisi takwa.

Generasi akan paham jati dirinya sebagai hamba. Ia akan beramal sesuai dengan syariat karena memahami semua hal yang dilakukannya didunia akan dimintai pertanggung jawaban. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan oleh Allah.
Sehingga tidak terbersit sedikit pun melakukan bunuh diri maupun dosa besar yang akan diganjar siksa oleh Allah SWT.
Sungguh hanya khil4f4h yang mampu membentuk generasi bermental kuat atas dorongan yang shohih yaitu akidah Islam. 

Wallahua'lam bi showab. 

Baca juga:

0 Comments: