Jebakan Doom Spending dalam Lingkaran Kapitalisme
Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)
SSCQmedia.com—Fenomena doom spending, yakni perilaku konsumsi impulsif yang berlebihan sebagai pelarian dari tekanan psikologis, semakin menguat di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z. Konsumsi tidak lagi dimaknai sebatas pemenuhan kebutuhan, melainkan beralih fungsi menjadi mekanisme coping terhadap stres, kecemasan, dan ketidakpastian hidup (online.binus.ac.id, 15/01/2026).
Dalam praktiknya, konsep self-reward kerap dijadikan legitimasi untuk membenarkan perilaku konsumtif. Selepas bekerja keras, individu merasa berhak “menghadiahi” diri melalui pembelian barang atau jasa yang tidak jarang berada di luar kebutuhan primer.
Namun, tanpa perencanaan yang matang, kebiasaan ini justru memicu problem baru, yakni menurunnya kapasitas finansial, munculnya rasa bersalah, serta berulangnya tekanan psikologis. Terbentuklah suatu siklus destruktif: stres memicu konsumsi, konsumsi menguras pendapatan, dan kondisi finansial yang memburuk kembali melahirkan stres.
Data empiris memperlihatkan bahwa rata-rata pendapatan Generasi Z di Indonesia masih berada pada tingkat yang relatif rendah, yakni di bawah Rp2,5 juta per bulan. Pendapatan tersebut sebagian besar terserap untuk kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan. Dalam aspek kepemilikan hunian, tantangan yang dihadapi bahkan jauh lebih kompleks akibat tingginya harga properti.
Di sisi lain, kondisi makroekonomi menunjukkan adanya tekanan struktural. Tingkat pengangguran di kalangan Generasi Z masih signifikan, sementara kenaikan harga kebutuhan pokok terus berlangsung. Fakta ini menandakan bahwa problem yang dihadapi bukan sekadar persoalan individual, melainkan berkaitan erat dengan sistem ekonomi yang tidak mampu menjamin distribusi kesejahteraan secara adil.
Dalam kerangka kapitalisme, mekanisme pasar yang berorientasi pada keuntungan sering kali mengabaikan aspek keadilan sosial. Ketimpangan distribusi kekayaan menjadi konsekuensi logis yang pada gilirannya berdampak pada ketidakstabilan kondisi ekonomi individu, termasuk generasi muda.
Kapitalisme tidak hanya menciptakan tekanan ekonomi, tetapi juga menawarkan “pelarian” melalui budaya konsumsi. Industri periklanan dan media secara sistematis membentuk persepsi bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui kepemilikan materi. Konsumsi pun diposisikan sebagai sarana rekreasi psikologis.
Padahal, pendekatan ini bersifat superfisial dan tidak menyentuh akar persoalan. Alih-alih menyelesaikan stres, konsumsi impulsif justru memperdalam krisis finansial dan memperkuat ketergantungan pada pola hidup hedonistik. Pada akhirnya, keuntungan ekonomi hanya terakumulasi pada pemilik modal, sementara masyarakat luas terjebak dalam siklus konsumsi tanpa henti.
Perspektif Islam
Islam menawarkan paradigma yang berbeda secara mendasar. Aktivitas ekonomi tidak dilepaskan dari tujuan ibadah serta diatur dalam kerangka keadilan dan tanggung jawab sosial.
Pertama, Islam memandang aktivitas mencari nafkah sebagai kewajiban yang bernilai ibadah, khususnya bagi laki-laki sebagai penanggung nafkah.
Rasulullah saw. bersabda, “Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.”
(HR. Muslim No. 995)
Hadis ini menegaskan bahwa orientasi ekonomi dalam Islam bukan sekadar akumulasi materi, melainkan pemenuhan tanggung jawab dengan nilai spiritual yang tinggi.
Kedua, Islam melarang perilaku berlebih-lebihan (isrāf) dalam konsumsi. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)
Ayat ini menjadi landasan etis bahwa konsumsi harus berada dalam koridor keseimbangan, bukan sebagai pelampiasan emosi.
Ketiga, Islam menekankan ketenangan jiwa sebagai hasil dari kedekatan dengan Allah, bukan dari kepemilikan materi.
Allah Ta‘ala berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Dengan demikian, solusi terhadap tekanan psikologis tidak diarahkan pada konsumsi, melainkan pada penguatan spiritual.
Peran Negara dalam Islam
Dalam sistem Islam, negara berfungsi sebagai rā‘in (pengurus) yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.
Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Peran ini diwujudkan melalui berbagai kebijakan strategis, antara lain:
- Menjamin ketersediaan lapangan kerja, khususnya bagi laki-laki sebagai penanggung nafkah, sehingga setiap individu mampu memenuhi kebutuhan keluarganya.
- Mengelola sumber daya alam dan industri strategis untuk kemaslahatan umum, bukan untuk kepentingan segelintir pihak.
- Menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar.
- Menjaga stabilitas harga dan akses terhadap kebutuhan pokok sehingga rakyat tidak terbebani oleh fluktuasi pasar yang merugikan.
Selain itu, negara juga berperan dalam membentuk ketakwaan individu dan masyarakat melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam serta penguatan budaya amar makruf nahi mungkar.
Penutup
Fenomena doom spending bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan refleksi dari sistem ekonomi yang membentuk pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Kapitalisme, dengan orientasi materialistiknya, tidak hanya gagal menyelesaikan problem tersebut, tetapi justru memperparahnya melalui normalisasi konsumsi berlebihan.
Sebaliknya, Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dengan mengintegrasikan aspek spiritual, ekonomi, dan sosial dalam satu kesatuan sistem. Dengan menjadikan negara sebagai pengurus rakyat dan menanamkan nilai ketakwaan sebagai fondasi kehidupan, Islam menghadirkan jalan keluar yang tidak hanya menyelesaikan gejala, tetapi juga menyentuh akar persoalan.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”
(HR. Muslim)
Wallahualam bissawab. [US/Wa]
Baca juga:
0 Comments: