Oleh: Imas Sunengsih, S.E., M.E.
(Aktivis Muslimah Intelektual)
SSCQmedia.com—Dua peristiwa yang menjadi perbincangan publik belakangan ini adalah kasus kekerasan terhadap puluhan balita di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, dan kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia (DetikNews.com, 29/4/2026).
Dua kejadian tersebut menunjukkan bahwa perempuan kerap berada pada posisi yang dikorbankan. Demi memenuhi kebutuhan hidup, banyak perempuan harus keluar rumah untuk bekerja, sementara anak-anak mereka dititipkan di tempat penitipan anak atau daycare. Adapun dalam peristiwa kecelakaan KRL, perempuan juga menjadi korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. Mereka pulang bekerja pada malam hari demi membantu perekonomian keluarga, tetapi justru menjadi tumbal dari sistem yang rusak hari ini.
Perempuan didorong keluar rumah dengan mengatasnamakan emansipasi, sementara pendidikan generasi justru terabaikan. Para ibu sibuk bekerja tanpa mengenal lelah di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Mereka terpaksa bekerja demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Banyak perempuan pergi pagi dan pulang malam, bahkan harus berdesak-desakan di dalam KRL.
Padahal, ibu sebagai pencetak generasi memiliki kewajiban mengasuh dan mendidik anak dengan pendidikan terbaik. Begitu pula negara memiliki peran penting dalam membentuk kurikulum berbasis akidah Islam serta menyediakan fasilitas terbaik untuk mencetak generasi unggul.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim: 6)
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa menjaga diri dan keluarga hanya dapat dilakukan melalui pendidikan berbasis akidah Islam sehingga terbentuk kepribadian Islam. Sosok yang lahir dari pendidikan ini akan memiliki keterikatan kuat terhadap hukum syarak dan menjadikan Islam kaffah sebagai standar kehidupannya.
Sungguh miris kondisi hari ini. Sistem yang ada tidak mampu melindungi perempuan dan kaum ibu. Kapitalisme justru memaksa perempuan untuk terus “berdaya” tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi peradaban. Akibatnya, lahirlah generasi yang lemah dan mudah putus asa. Inilah benang merah dari dua fenomena di atas, yakni sistem kapitalisme yang menjadikan perempuan sebagai korban dari kerusakan yang terstruktur.
Sistem kapitalisme-sekularisme yang diterapkan saat ini telah menimbulkan kerusakan di berbagai aspek kehidupan. Namun, para pemangku kebijakan tetap mempertahankan sistem tersebut. Bahkan, tidak sedikit pernyataan yang muncul justru tidak solutif dan tidak kompeten dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Sungguh ironis, negeri yang kaya raya justru dikelola dengan sistem yang rusak dan oleh orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya.
Sudah seharusnya para pemangku kebijakan berbenah dan mencari solusi yang revolusioner untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi, bukan saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab. Cara berpikir solutif sangat dibutuhkan, dan solusi itu hanya ada dalam sistem Islam kaffah. Inilah yang harus dipahami kaum muslim, termasuk pemerintah. Hanya dengan penerapan Islam kaffah seluruh persoalan dapat diselesaikan hingga ke akar-akarnya.
Sistem Islam kaffah pernah diterapkan selama lebih dari empat belas abad dan terbukti mampu memberikan perlindungan kepada perempuan serta melahirkan generasi yang tangguh dan bertakwa sehingga tercipta peradaban yang agung. Kaum ibu mendidik generasi dengan penuh tanggung jawab melalui pendidikan Islam yang mumpuni, ditopang negara yang menyediakan fasilitas pendidikan terbaik.
Dalam sejarah kejayaan Islam, lahir banyak ilmuwan muslim yang berpengaruh di dunia, di antaranya:
- Ibnu Sina dikenal sebagai bapak kedokteran modern melalui karya Al-Qanun fi al-Tibb.
- Al-Khawarizmi merupakan penemu aljabar dan konsep algoritma.
- Ibnu al-Haytham dikenal sebagai pelopor ilmu optik modern dan prinsip kerja kamera.
- Al-Jazari merupakan pionir robotika dan teknik mesin.
- Jabir bin Hayyan dikenal sebagai bapak kimia modern.
- Abbas bin Firnas merupakan pelopor penerbangan dan aerodinamika.
Karya-karya para ilmuwan muslim tersebut masih digunakan dan dikembangkan hingga saat ini. Dahulu, peradaban Islam menjadi peradaban cemerlang yang dijadikan rujukan dunia. Namun, setelah Khilafah Utsmaniyah runtuh akibat penjajahan, dunia Islam terus berada dalam cengkeraman penjajah. Kaum muslim kehilangan pengaruh di kancah internasional sehingga negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, mudah didominasi.
Sistem kapitalisme-sekularisme yang mengakar di negeri ini harus segera diganti dengan sistem Islam kaffah. Inilah perjuangan kaum muslim dengan kembali memahami Islam secara menyeluruh dan bersungguh-sungguh mewujudkan tegaknya kehidupan Islam dalam institusi khilafah ala minhaj nubuwwah.
Wallahu a‘lam bish shawab.
[Rn/PR]
Baca juga:
0 Comments: