Evaluasi Tilawah Sya’ban, Ramadan, dan Syawal
Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—"Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul. Karena itu, tetapkanlah kami bersama golongan orang-orang yang memberikan kesaksian."
(QS. Ali Imran: 53)
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat, Al-Qur’an, rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar, sekaligus menjadi saksi atas kebenaran ajaran-Nya.
Alhamdulillah, pada bulan Sya’ban yang lalu penulis dapat khatam pada hari ke-17. Saat itu cuaca sering hujan sehingga suasana terasa lebih kondusif untuk tilawah. Di waktu yang sama, penulis juga membersamai si bungsu yang sedang mempersiapkan tasmi’ 9 juz. Jika ia berjuang di pesantren, maka ibunya pun berusaha berjuang dari rumah—mendoakan, sekaligus melakukan riyadhah agar tasmi’-nya dimudahkan, dilancarkan, dan memperoleh hasil terbaik (mumtaz). Alhamdulillah, doa yang dilangitkan pun dikabulkan. Pada acara PHBI Nuzulul Qur’an, ananda si bungsu maju menerima syahadah (sertifikat kelulusan) dari Kiai Hafiz Abdurrahman dengan predikat mumtaz.
Pada bulan Ramadan yang baru saja berlalu, Allah kembali memberi kemudahan. Penulis dapat khatam pada hari ke-21 challenge, bahkan secara hitungan tilawah selesai pada hari ke-19 Ramadan. Artinya, khatam dapat diraih sebelum memasuki sepuluh hari terakhir. Harapannya, pada sepuluh hari terakhir saat i’tikaf bisa menyelesaikan putaran kedua. Namun, kesibukan i’tikaf serta momen kebersamaan dengan si bungsu yang pulang ke rumah turut menyita waktu—melepas rindu, berbagi cerita, i’tikaf bersama, berbuka puasa, hingga berbelanja. Meski demikian, di sisa sepuluh hari terakhir masih bisa menyelesaikan 11 juz. Artinya, kecepatan tilawah masih standar, yaitu satu hari satu juz. Tetap disyukuri, karena Allah masih memberi kesempatan untuk “bermesraan” dengan Al-Qur’an.
Lalu, bagaimana rencana di bulan Syawal? Insyaallah tetap melanjutkan pola yang sama, yaitu One Day One Juz (ODOJ) Plus Plus, sesuai arahan SSCQ (Sahabat Surga Cinta Qur’an). Tidak hanya tilawah, tetapi juga membaca terjemah, memilih ayat yang berkesan untuk ditadabburi, serta menuliskan hasil tadabburnya. Rutin ODOJ Plus Plus sudah lebih dari cukup, yang terpenting adalah istikamah. Biarlah sedikit, asalkan konsisten. Sebagaimana peribahasa Arab menyebutkan bahwa istikamah adalah karamah.
Alhamdulillah, semoga kami yang tergabung dalam SSCQ termasuk orang-orang yang mendapatkan karamah tersebut. Penulis sendiri telah mengikuti ODOJ Plus Plus kategori satu juz per hari sejak Ramadan 1443 H hingga Ramadan 1447 H. Artinya, sudah lima tahun bersama SSCQ—setiap hari khatam satu juz dan setiap bulan khatam Al-Qur’an. Kebahagiaan tersendiri ketika bisa kholas setiap hari dan khatam setiap bulan. Salah satu kuncinya adalah mendahulukan membaca Al-Qur’an sebelum membaca yang lain, serta menyediakan waktu khusus untuk tilawah, bukan menunggu waktu luang.
Kemampuan untuk kholas setiap hari dan khatam setiap bulan tentu tidak terjadi secara instan. Semua membutuhkan perjuangan. Dulu, baru membuka Al-Qur’an saja sudah menguap dan rasa kantuk datang. Namun, terus dilawan. Jika mengantuk, berwudu kembali hingga badan segar. Tilawah pun diusahakan tidak sambil berbaring agar tidak tertidur. Adab membaca Al-Qur’an juga dijaga: dalam keadaan suci, tempat dan pakaian bersih, berwudu, duduk menghadap kiblat, serta diawali dengan ta’awudz dan basmalah. Jika lelah, boleh berdiri sejenak.
Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Allah pernah “menegur” dengan ujian sakit. Namun, dengan izin-Nya, kesembuhan datang melalui puasa dan terapi Al-Qur’an, bahkan ketika dokter belum menemukan solusi. Sungguh, nikmat mana lagi yang hendak didustakan? Dari pengalaman itu, penulis berazam untuk terus istikamah dalam tilawah Al-Qur’an dan shaum sunnah agar kesehatan tetap terjaga dan selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Bogor, 25 Maret 2026
[MA/UF]
Baca juga:
0 Comments: