Headlines
Loading...

Oleh: Hana Salsabila A.R.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Bagi Zionis, melanggar janji seolah menjadi hal biasa yang kerap disaksikan dunia. Namun, mengapa masih banyak yang berharap kepada mereka? Kesepakatan gencatan senjata telah berlalu, berbagai aksi demonstrasi hingga boikot pun telah dilakukan. Akan tetapi, apakah semua itu benar-benar mampu menghentikan kebiadaban Zionis? Sekali lagi, jawabannya: tidak sama sekali.

Pada Jumat malam, 8 Mei 2026, Gaza kembali dibombardir oleh Zionis. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah bangunan tempat tinggal warga hancur dan beberapa warga sipil, termasuk anak-anak, dilaporkan mengalami luka-luka. Padahal, masa gencatan senjata masih berlangsung. Namun, semua terasa sia-sia ketika berhadapan dengan pihak yang terus mengingkari janji.

Selain serangan langsung, masih banyak tindakan kekerasan yang minim bahkan tidak terliput media. Misalnya, kekerasan terhadap seorang perempuan Kristen oleh Zionis, kekerasan terhadap bayi, serta berbagai bentuk kezaliman lainnya.

Sebagai umat yang disebut sebagai umat terbaik dan diibaratkan satu tubuh, hati kaum muslimin terus tercabik melihat penderitaan Palestina. Namun, sejak isu gencatan senjata mencuat, semangat pembelaan justru perlahan meredup. Padahal, umat sangat memahami betapa licik dan brutalnya Zionis. Akibatnya, banyak kaum muslimin hanya mampu merasakan sakit, menangis, dan menggigit jari karena tidak mampu membela saudaranya sendiri. Tentu saja, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Penjajahan akan terus berlangsung meskipun air mata telah kering karena tangisan.

Kekuatan untuk menolong Palestina memang berasal dari Allah Swt. Namun, Allah menitipkan kekuatan itu kepada manusia, khususnya para pemimpin muslim yang memiliki kekuasaan dan kemampuan. Sayangnya, kondisi umat Islam yang lemah hari ini diperparah oleh para pemimpin yang dilanda hubbud dunya (cinta dunia dan takut mati). Mereka hanya mampu mengecam, padahal memiliki kemampuan untuk mengirim bantuan pasukan demi membebaskan Palestina dari penjajahan. Mereka lebih senang berjabat tangan dengan penjajah dan mencuci tangan dengan sekadar kecaman.

Allah Swt. berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian mereka takut kepada manusia seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut lagi. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan sampai beberapa waktu lagi?’ Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.’”
(QS. An-Nisa: 77)

Jika negosiasi dan jalan damai tidak mampu menghentikan penjajahan, maka menurut Islam jalan yang harus ditempuh adalah jihad fisabilillah. Menyatukan semangat jihad umat dan memerangi penjajahan merupakan tugas pemimpin muslim dalam menegakkan kewajiban membela sesama muslim serta menyusun strategi perjuangan. Hal ini sebagaimana dicontohkan para pemimpin muslim terdahulu.

Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَأَبِي طَلْحَةَ بْنِ سَهْلٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ، وَمَا مِنِ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَتُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ.
(HR. Abu Dawud no. 4240)

“Tidaklah seseorang meninggalkan pertolongan terhadap seorang muslim di tempat kehormatannya direndahkan dan harga dirinya dilecehkan, melainkan Allah tidak akan menolongnya pada saat ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim di tempat kehormatannya direndahkan dan harga dirinya dilecehkan, melainkan Allah akan menolongnya pada saat ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya.”

Jika seorang muslim, terlebih seorang pemimpin, memahami hakikat ayat dan hadis tersebut, seharusnya mereka berlomba-lomba memenuhi seruan jihad dan menolong saudaranya. Namun, di tengah kondisi umat yang mengalami kemunduran seperti saat ini, jihad tidak akan pernah terwujud kecuali di bawah naungan Daulah Islam yang menerapkan syariat Allah secara menyeluruh serta dipimpin oleh pemimpin saleh yang mampu menjadi teladan bagi rakyatnya.

Wallahu a‘lam bissawab. [An/Wa]

Baca juga:

0 Comments: