Oleh: Ummu Fahhala
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Hari Jumat, 7 November 2025, seharusnya menjadi hari yang khidmat di Masjid SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading. Namun, gema khotbah tiba-tiba berubah menjadi ledakan yang mengguncang jiwa banyak anak muda (news.detik.com, 08/11/2025).
Puluhan korban luka, kepanikan massal, dan trauma mendalam menjadi potret luka pendidikan kita hari ini. Ledakan itu bukan hanya melukai tubuh, tetapi juga hati. Ruang yang seharusnya menjadi tempat aman dan teduh—masjid dan sekolah—berubah menjadi ruang ketakutan.
Yang lebih menyakitkan, muncul dugaan bahwa pelaku merupakan bagian dari lingkungan sekolah itu sendiri; mungkin korban perundungan yang kemudian menyalurkan dendam dalam bentuk kekerasan (antaranews.com, 08/11/2025).
Allah Swt. telah memperingatkan dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu (atau orang lain); sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).
Ayat ini menegaskan bahwa setiap nyawa adalah amanah, bukan alat pelampiasan amarah. Ketika anak muda kehilangan pegangan spiritual dan moral, jalan yang ditempuh dapat mengarah pada kebinasaan.
Kapitalisme Pendidikan: Ketika Nilai Materi Mengalahkan Nilai Manusia
Dalam sistem pendidikan modern berorientasi kapitalistik, ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari prestasi akademik, peringkat, atau kemampuan menembus universitas ternama.
Anak-anak didorong unggul secara kognitif, tetapi sering kehilangan ruang untuk belajar menjadi manusia yang berempati, menghargai, dan mengasihi. Ketika nilai-nilai adab dan akhlak tergantikan oleh ambisi dan gengsi, sekolah bukan lagi taman ilmu, melainkan arena persaingan dingin tanpa hati.
Di sinilah akar dari banyak fenomena perundungan, depresi, bahkan tindakan kekerasan di kalangan pelajar.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa kasih sayang dan empati adalah inti dari pendidikan yang sejati. Namun, ketika pendidikan hanya menumbuhkan ego, bukan cinta, maka hasilnya adalah generasi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin nurani.
Pendidikan Islami: Menyatukan Akidah, IPTEK, dan Akhlak
Islam tidak menolak ilmu pengetahuan modern, tetapi menempatkannya dalam bingkai akidah dan akhlak. Ilmu harus membuat manusia semakin mengenal dan tunduk kepada Sang Pencipta, bukan semakin sombong dan menjauh.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Pendidikan Islami sejatinya menyiapkan generasi yang tidak hanya andal dalam IPTEK, tetapi juga kuat dalam iman. Generasi yang berkepribadian Islam, berjiwa sosial, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kemaslahatan, bukan alat kesombongan.
Tragedi di SMA Negeri 72 Jakarta adalah cermin yang harus kita pandang dengan jujur. Kita perlu bertanya: apakah sistem pendidikan kita masih menyediakan ruang untuk menanamkan kasih sayang, empati, dan nilai moral?
Pendidikan harus kembali kepada ruhnya—mendidik manusia agar beradab.
Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran, tetapi teladan akhlak.
Sekolah bukan sekadar ruang belajar, tetapi rumah kedua yang menumbuhkan cinta dan kepercayaan diri.
Penutup
Tragedi ini adalah luka, tetapi juga dapat menjadi titik balik. Luka hari ini bisa menjadi jalan menuju cahaya jika kita berani memperbaiki arah pendidikan bangsa—arah Islam, yang berlandaskan petunjuk wahyu Allah Swt.
Mari menjadikan setiap ruang kelas, setiap masjid, dan setiap halaman sekolah sebagai tempat yang menumbuhkan iman dan kasih sayang. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Jika pendidikan tidak melahirkan akhlak, maka ia telah kehilangan ruhnya.
Jika sekolah tidak lagi menenangkan jiwa anak-anak, maka ia telah kehilangan maknanya.
Semoga para korban diberi kesembuhan, para guru diberi kekuatan, dan bangsa ini diberi hidayah untuk menata kembali pendidikan yang beradab, beriman, dan berperikemanusiaan—agar tidak ada lagi ledakan kebencian yang lahir dari ruang yang seharusnya melahirkan cinta. [An]
Baca juga:
0 Comments: